Kehadiran pemain naturalisasi dalam tiga tahun terakhir diakui memberi dampak signifikan bagi performa Timnas Indonesia. Sukses Skuad Garuda menembus putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia tidak lepas dari kontribusi para pemain keturunan yang kini resmi memperkuat Merah Putih.
Nama-nama seperti Emil Audero, Jay Idzes, Calvin Verdonk, Ivar Jenner, Ole Romeny, Ragnar Oratmangoen, Joey Pelupessy, Justin Hubner, dan Kevin Diks kini menjadi tulang punggung Timnas Indonesia. Mereka bahu-membahu dengan talenta lokal seperti Rizky Ridho, Ricky Kambuaya, dan Yakob Sayuri di bawah arahan pelatih Patrick Kluivert.
Pada Oktober mendatang, Timnas Indonesia dijadwalkan menghadapi laga krusial melawan Arab Saudi (8/10) dan Irak (11/10). Dua kemenangan akan memastikan Indonesia lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Pandangan Eks Pemain Timnas
Mantan gelandang Timnas Indonesia, Andrian Mardiansyah, menilai langkah PSSI mendatangkan pemain naturalisasi merupakan keputusan tepat. Menurutnya, kompetisi domestik saat ini belum mampu menghasilkan pemain lokal dengan kualitas yang cukup untuk bersaing di level tertinggi.
“Kalau tanpa diperkuat pemain naturalisasi, intinya masih berat kalau masih pakai pemain lokal. Berat,” ujar Andrian Mardiansyah melalui kanal YouTube Bicara Bola.
Eks pemain Persija Jakarta dan PSIS Semarang itu menegaskan, kualitas kompetisi nasional menjadi faktor utama yang membuat pemain lokal belum bisa diandalkan sepenuhnya. “Pertama, kompetisi kita saja masih seperti ini karena itu nadinya tim nasional. Makanya kalau pakai asli Indonesia, kita masih belum bisa. Harus pakai pemain naturalisasi,” tambahnya.
Proyek Jangka Panjang
Meski mengapresiasi kebijakan naturalisasi, Andrian mengingatkan agar PSSI juga memikirkan keberlangsungan talenta lokal. Ia menilai program ini bisa menjadi proyek jangka panjang, asalkan tidak mengorbankan perkembangan pemain asli Indonesia.
“Setuju sih setuju, tapi kasihan juga pemain lokalnya. Sepak bola memang seperti itu, jadi pemain harus bisa bersaing. Kalau memang mau maju, ya ayo harus bersaing. Jangan kalah sama pemain naturalisasi. Intinya seperti itu,” tegas Andrian.
Ia menambahkan, persaingan merupakan risiko yang harus diterima setiap pesepakbola profesional. “Itu risiko. Sebagai pemain bola, memang harus seperti itu. Di mana pun juga persaingan terjadi, bukan hanya di Indonesia,” pungkasnya.
Harapan Menatap Piala Dunia
Dengan kombinasi pemain naturalisasi dan talenta lokal, harapan publik sepak bola Indonesia kini mengarah pada pencapaian bersejarah: tampil di Piala Dunia 2026. Pertandingan melawan Arab Saudi dan Irak akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Garuda untuk membuktikan bahwa langkah naturalisasi memang mampu membawa Indonesia ke panggung dunia. (***)












