Hutan kota bukan sekadar penghias lanskap perkotaan. Di balik rimbunnya dedaunan, ruang hijau ini berperan sebagai sistem pendukung kehidupan yang menjaga keseimbangan ekologi di tengah tekanan urbanisasi.
Kawasan ini merupakan hamparan lahan di wilayah perkotaan yang ditumbuhi pepohonan secara kompak dan rapat, baik pada tanah negara maupun tanah hak yang ditetapkan secara resmi. Berbeda dengan taman yang tertata rapi, hutan ini dibiarkan tumbuh secara alami menyerupai hutan asli.
Keberadaan hutan kota menjadi semakin krusial seiring dengan meluasnya wilayah urban dan meningkatnya tantangan lingkungan. Mari kita telusuri bagaimana ruang hijau ini berfungsi sebagai solusi alami bagi kesehatan lingkungan dan masyarakat perkotaan.
Memahami Hakikat Hutan Kota
Secara formal, hutan kota didefinisikan sebagai suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di wilayah perkotaan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2002, kawasan ini ditetapkan oleh pejabat berwenang pada tanah negara maupun tanah hak.
Tujuan utamanya adalah untuk pelestarian lingkungan, rehabilitasi lahan kritis, pengurangan polusi udara, dan penciptaan keserasian ekosistem perkotaan yang mencakup unsur lingkungan, sosial, dan budaya.
Hutan kota memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari taman kota biasa. Kawasan ini memiliki biomassa yang lebih banyak karena terdiri dari beberapa strata ketinggian, mulai dari vegetasi rendah hingga pohon yang dapat mencapai 40-60 meter.
Pohon-pohon di hutan kota juga memiliki diameter tajuk dan kerapatan daun yang lebih besar dibandingkan dengan taman. Berdasarkan bentuknya, hutan kota dapat dikategorikan menjadi tiga jenis utama:
- Bentuk Kompak/Bergerombol: Vegetasi terkonsentrasi pada suatu areal dengan minimal 100 pohon dan jarak tanam rapat yang tidak beraturan
- Bentuk Menyebar: Vegetasi tumbuh menyebar terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau kelompok kecil tanpa pola tertentu
- Bentuk Jalur: Vegetasi tumbuh pada lahan berbentuk jalur lurus atau melengkung, biasanya mengikuti bentukan sungai, jalan pantai, atau saluran
Fungsi Ekologis Hutan Kota
Pengatur Iklim Mikro dan Penyaring Polusi
Hutan kota berperan penting dalam menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk di kawasan perkotaan. Pepohonan memberikan keteduhan dan mendinginkan udara melalui proses evapotranspirasi, di mana mereka menarik air dari tanah dan melepaskannya melalui daun ke udara.
Di daerah dengan tutupan kanopi hutan tinggi (lebih dari 70%), suhu permukaan cenderung berada di bawah rata-rata dibandingkan daerah terbangun dengan tutupan kanopi rendah.
Selain itu, hutan kota berfungsi sebagai penyaring alami polutan udara. Daun-daun yang rimbun mampu menyaring debu, kotoran, dan gas berbahaya seperti karbon dioksida dan nitrogen dioksida.
Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa bahkan hutan kota yang paling luas dan terkelola dengan baik biasanya hanya menghilangkan sebagian kecil (kurang dari 1%) dari total polusi kota. Strategi berbasis pohon ini harus direncanakan dengan hati-hati dan dikombinasikan dengan upaya mengurangi polutan pada sumbernya untuk hasil yang optimal.
Pengatur Tata Air dan Pencegah Banjir
Fungsi hidrologis hutan kota sangat vital bagi lingkungan urban. Pada musim hujan, tanah hutan dan pepohonan menampung air hujan sehingga tidak langsung mengalir ke tempat lebih rendah. Hal ini mengurangi risiko banjir dengan signifikan. Akar pohon bertindak seperti spons alami yang menahan air di tanah ketika berlebih dan melepaskannya perlahan selama periode kering.
Pada musim kemarau, hutan kota menyediakan cadangan air tanah yang disimpannya untuk digunakan warga kota. Kawasan berhutan di daerah aliran sungai terdekat juga melindungi pasokan air dari polutan, mencegah erosi tanah, dan menyaring sedimen, sehingga menjaga kualitas air permukaan dan akuifer.
Habitat Keanekaragaman Hayati
Di tengah tekanan pembangunan perkotaan, hutan kota memberikan perlindungan penting bagi berbagai jenis flora dan fauna. Kawasan ini menjadi habitat bagi burung, serangga, mamalia kecil, dan reptil yang semakin terdesak ruang hidupnya. Ekosistem hutan kota yang terbentuk secara alami membantu menjaga kelestarian keanekaragaman hayati meski berada di tengah kepadatan perkotaan.
Fungsi Sosial dan Ekonomi Hutan Kota
Ruang Rekreasi dan Kesehatan Mental
Hutan kota menyediakan ruang hijau yang menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat urban. Kawasan ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas seperti jogging, bersepeda, atau sekadar bersantai melepas penat kehidupan kota. Menariknya, penelitian di Jepang menemukan bahwa berjalan-jalan di antara pohon (forest bathing atau shinrin-yoku) dapat menurunkan kadar hormon stres hingga 16%.
Manfaat kesehatan mental dari hutan kota sangat signifinkan, terutama bagi anak-anak. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang secara teratur bermain di area alami cenderung memiliki kesadaran dan koordinasi spasial yang lebih baik. Akses ke alam juga membantu meningkatkan konsentrasi pada anak-anak dan orang dewasa dengan ADHD.
Sarana Edukasi Lingkungan
Hutan kota berfungsi sebagai laboratorium alam untuk pendidikan lingkungan. Di sini, anak-anak dapat mengenal berbagai jenis flora dan fauna secara langsung. Kesadaran tentang pentingnya melestarikan lingkungan dapat dikembangkan melalui pengalaman langsung di hutan kota, menciptakan generasi yang lebih peduli terhadap keberlanjutan ekologis.
Penggerak Ekonomi Lokal
Dari perspektif ekonomi, hutan kota yang dikelola dengan baik dapat menjadi daya tarik pariwisata. Dampak ekonomi dapat dirasakan secara langsung melalui pemungutan tiket masuk maupun tidak langsung melalui bisnis hotel, restoran, kerajinan souvenir, dan usaha masyarakat lainnya. Masyarakat sekitar juga dapat memperoleh manfaat ekonomi dengan membuka bisnis kuliner atau kerajinan tangan yang menjadi ciri khas kawasan tersebut.
Contoh Hutan Kota di Indonesia
Indonesia memiliki beberapa contoh hutan kota yang berfungsi dengan baik:
- Hutan Kota Srengseng dan Kemayoran di Jakarta: Menjadi ruang hijau vital di ibu kota yang padat
- Hutan Kota Batu di Jawa Timur: Telah berkembang menjadi agrowisata dengan berbagai wahana permainan
- Hutan Kota Depok: Terletak di kawasan Universitas Indonesia, berfungsi sebagai daerah resapan air dan pelestarian lingkungan
- Hutan Kota Banda Aceh: Memiliki luas 7,15 hektar dengan sekitar 95 jenis pepohonan langka
Di Purbalingga, setidaknya terdapat delapan hutan kota yang tersebar di berbagai lokasi, dengan luas bervariasi dari 0,29 hingga 2,67 hektar. Data ini menunjukkan komitmen daerah dalam mengembangkan ruang hijau perkotaan.
Tantangan dan Masa Depan Hutan Kota
Meskipun manfaatnya jelas, pengembangan hutan kota masih menghadapi berbagai tantangan. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya ruang hijau sering menjadi hambatan. Selain itu, distribusi hutan kota yang tidak merata juga menjadi masalah, dengan daerah berpenghasilan rendah cenderung memiliki lebih sedikit pohon dan akses ke area alami.
Ke depan, diperlukan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, komunitas, dan sektor swasta untuk mengembangkan hutan kota yang inklusif dan berkelanjutan. Konsep “kota hijau dalam 15 menit” – di mana setiap warga memiliki akses ke ruang hijau dalam jarak 15 menit – bisa menjadi visi yang patut diperjuangkan.
Program adopsi pohon, konversi lahan kosong menjadi taman komunitas, dan insentif bagi pengembang yang menyisihkan lahan untuk hutan kota adalah beberapa langkah praktis yang dapat diimplementasikan.
Kesimpulan
Hutan kota merupakan investasi penting bagi kesehatan lingkungan dan masyarakat urban. Fungsi ekologisnya sebagai pengatur iklim mikro, penyaring polusi, pengendali banjir, dan habitat keanekaragaman hayati menjadikannya infrastruktur hijau yang tak tergantikan. Sementara dari sisi sosial, hutan kota berperan sebagai ruang rekreasi, sarana edukasi, dan penggerak ekonomi lokal.
Komitmen bersama dari semua pihak sangat diperlukan untuk memperluas dan memelihara ruang hijau ini. Dengan menjadikan hutan kota sebagai prioritas dalam perencanaan tata ruang perkotaan, kita tidak hanya menciptakan lingkungan yang lebih sehat, tetapi juga membangun komunitas urban yang lebih sejahtera dan berkelanjutan.
Sudah saatnya kita memandang hutan kota bukan sebagai kemewahan, tetapi sebagai kebutuhan mendasar bagi kota-kota modern.
Referensi: https://dlhnduga.org/struktur/












