Arne Slot sempat melempar senyum kecil ketika mengakui bahwa musim ini adalah yang terberat dalam karier kepelatihannya. Pengakuan itu ia sampaikan dalam konferensi pers pada Selasa lalu, di tengah tekanan besar yang kini menyelimuti Liverpool.
Apa pun yang akan ia raih di masa depan sebagai pelatih, kampanye kali ini telah mendorong juru taktik asal Belanda tersebut ke batas baru. Setelah melesat menjadi juara Premier League pada musim pertamanya bersama The Reds, musim kedua justru berjalan jauh dari ekspektasi.
Slot menggambarkan musim ini dipenuhi berbagai kemunduran, pukulan, dan bahkan “nasib buruk”. Namun jika melihat data statistik, persoalan Liverpool tampak lebih dalam dari sekadar faktor keberuntungan.
Performa Menurun Drastis
Liverpool mengawali musim dengan impresif, menyapu bersih lima laga liga pertama. Akan tetapi, performa itu tak berlanjut. Dari 20 pertandingan berikutnya, mereka hanya mampu mengumpulkan 24 poin.
Sebagai perbandingan, Roy Hodgson mengoleksi 25 poin dari 20 laga sebelum akhirnya dipecat sebagai manajer Liverpool pada musim 2010/11. Catatan tersebut menjadi bayang-bayang yang tak mengenakkan bagi Slot.
Sepanjang tahun 2026 saja, Liverpool hanya meraih satu kemenangan dari tujuh pertandingan liga. Bahkan sebelumnya musim ini, sembilan kekalahan dalam 12 laga menjadi rentetan terburuk klub dalam 71 tahun terakhir.
Kritik pun bermunculan. Legenda Manchester United, Roy Keane, melontarkan komentar pedas di Sky Sports usai Liverpool menelan kekalahan liga kedelapan musim ini.
“Mereka benar-benar juara yang buruk,” ujar Keane.
Investasi Besar, Tekanan Semakin Tinggi
Statistik tersebut jelas tidak mencerminkan performa tim juara bertahan, terlebih setelah Liverpool menggelontorkan dana sekitar 450 juta paun pada bursa transfer musim panas.
Dengan investasi sebesar itu, ekspektasi publik dan manajemen otomatis meningkat. Slot sendiri mengakui bahwa kegagalan lolos ke Liga Champions akan menjadi sesuatu yang tidak dapat diterima.
Saat ini, peluang Liverpool untuk mengamankan tiket Liga Champions masih terbuka. Namun, situasi tersebut lebih banyak dipengaruhi inkonsistensi para pesaing.
Chelsea dan Manchester United, misalnya, juga mengalami periode sulit musim ini. Kedua klub tersebut bahkan telah memecat manajer mereka akibat memburuknya hubungan antara pelatih dan jajaran petinggi klub.
Ujian Kepemimpinan Slot
Di tengah situasi ini, kemampuan Slot dalam menjaga ruang ganti dan mengembalikan kepercayaan diri skuad menjadi sorotan utama. Musim ini bukan sekadar tentang hasil di papan klasemen, melainkan juga ujian mental dan manajerial.
Liverpool masih memiliki waktu untuk memperbaiki keadaan. Namun jika tren negatif berlanjut, musim yang awalnya digadang-gadang sebagai momentum dominasi justru bisa berubah menjadi catatan pahit dalam sejarah klub.
Bagi Arne Slot, musim ini mungkin akan dikenang bukan karena trofi, melainkan sebagai ujian terberat yang membentuk karier kepelatihannya di level tertinggi. (***)


