Scroll untuk baca artikel
Historical

Asal Usul Konflik Taiwan dan China: Sejarah Kelam yang Tak Kunjung Usai

×

Asal Usul Konflik Taiwan dan China: Sejarah Kelam yang Tak Kunjung Usai

Sebarkan artikel ini
Asal Usul Konflik Taiwan dan China Sejarah Kelam yang Tak Kunjung Usai
Baca Berita Terupdate di Saluran Whatsapp Gratis

Konflik antara Taiwan dan China bukan sekadar perselisihan politik biasa. Ini adalah pertarungan identitas, kedaulatan, dan sejarah yang belum selesai. Dalam artikel ini, kita akan mengupas tuntas asal usul konflik Taiwan dan China, lengkap dengan data Taiwan dan angka Taiwan yang relevan untuk memperjelas gambaran. Yuk, kita bahas dari akar masalahnya!

Sejarah Awal Taiwan dan Hubungannya dengan Tiongkok

Koloni Hingga Perang Dunia II

Awalnya, Taiwan bukan bagian dari Tiongkok seperti yang sering digaungkan oleh pemerintah Beijing. Sejak abad ke-17, Taiwan telah mengalami berbagai pendudukan: mulai dari Belanda, Spanyol, hingga Jepang. Pada 1895, Taiwan resmi jatuh ke tangan Jepang setelah Kekaisaran Qing menyerah dalam Perjanjian Shimonoseki.

Iklan

Namun, setelah Jepang kalah di Perang Dunia II tahun 1945, Taiwan kembali “diberikan” ke Republik Tiongkok (ROC) yang saat itu dipimpin oleh Kuomintang (KMT).

“Banyak orang mengira Taiwan itu bagian dari Tiongkok sejak dulu. Padahal, secara sejarah dan budaya, Taiwan punya perkembangan yang sangat unik.” — Prof. Shelley Rigger, pakar politik Asia Timur.

Perang Saudara Tiongkok dan Eksodus ke Taiwan

Periode 1945–1949 jadi titik penting. Saat perang saudara antara Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan KMT makin panas, Mao Zedong berhasil mendirikan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Beijing tahun 1949. Sementara itu, pemimpin KMT Chiang Kai-shek melarikan diri ke Taiwan bersama dua juta pendukungnya.

Di sinilah titik awal konflik dimulai. Dua negara dengan dua pemerintahan yang sama-sama mengklaim sebagai “Tiongkok yang sah”.

Taiwan Modern dan Identitasnya yang Semakin Mandiri

Transformasi Ekonomi dan Politik

Taiwan berkembang sangat cepat setelah 1950-an. Dari negara agraris, Taiwan berubah menjadi salah satu raksasa teknologi dunia. Berdasarkan data Taiwan, PDB per kapita pada tahun 2024 mencapai USD 36.000, jauh lebih tinggi dari rata-rata Asia.

Secara politik, Taiwan juga mengalami transisi demokrasi. Pemilu langsung pertama diadakan pada 1996. Kini, warga Taiwan secara terbuka memilih pemimpin mereka dan sangat aktif dalam kehidupan demokrasi.

“Demokrasi Taiwan adalah salah satu yang paling dinamis di Asia. Ini bukti bahwa Taiwan sudah menjadi entitas tersendiri.” — Bonnie Glaser, Direktur Indo-Pacific Program German Marshall Fund.

Angka Taiwan dan Sentimen Rakyat

Menurut survei National Chengchi University 2023:

  • 64% warga Taiwan mengidentifikasi diri sebagai “orang Taiwan”
  • Hanya 2,4% yang merasa sebagai “orang Tiongkok”
  • 84% menolak reunifikasi dengan Tiongkok di bawah sistem satu negara dua sistem

Angka Taiwan ini menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Taiwan menolak identitas Tiongkok dan mendukung status quo atau bahkan kemerdekaan penuh.

Posisi China: “Satu Tiongkok” yang Tak Boleh Diganggu

Prinsip Satu Tiongkok

Pemerintah RRT di Beijing tetap bersikeras bahwa Taiwan adalah provinsi yang memisahkan diri. Mereka menggencarkan prinsip “One China Policy” di dunia internasional.

Negara-negara yang mengakui Beijing, tidak boleh mengakui Taipei sebagai negara. Inilah mengapa hanya 12 negara di dunia yang secara resmi mengakui Taiwan pada 2024.

Ancaman Militer dan Tekanan Diplomatik

Beijing tidak main-main soal Taiwan. Mereka rutin menggelar latihan militer di sekitar Selat Taiwan dan memperingatkan bahwa “kemerdekaan Taiwan berarti perang”.

Dalam satu tahun terakhir:

  • Tercatat lebih dari 1.700 pelanggaran wilayah udara oleh pesawat tempur RRT
  • 2 kapal induk China berlayar mendekati wilayah Taiwan

Posisi Internasional: AS, Jepang, dan Negara Barat

Dukungan Tak Langsung Tapi Kuat

Amerika Serikat tidak mengakui Taiwan sebagai negara, tetapi mereka punya komitmen kuat untuk membantu Taiwan mempertahankan diri melalui Taiwan Relations Act.

Negara-negara seperti Jepang, Australia, dan Uni Eropa juga semakin vokal mendukung demokrasi Taiwan.

“Kita harus bersama Taiwan. Ini bukan hanya soal geopolitik, tapi soal nilai-nilai demokrasi.” — Antony Blinken, Menteri Luar Negeri AS.

Konflik yang Bisa Memicu Perang Dunia?

Banyak analis meyakini Taiwan adalah “flashpoint” global. Jika China menyerbu Taiwan, maka AS dan sekutu bisa ikut campur, memicu perang besar di Asia.

Apakah Taiwan Akan Merdeka Secara Resmi?

Status Quo yang Disukai Banyak Pihak

Hingga saat ini, Taiwan tidak secara resmi mendeklarasikan kemerdekaan karena tahu risikonya sangat besar. Sebaliknya, mereka mempertahankan status quo: tidak mendeklarasikan diri sebagai negara, tapi juga tidak tunduk pada China.

Presiden Tsai Ing-wen menyebut Taiwan sebagai “negara de facto” dan akan terus mempertahankan demokrasi serta identitas nasional tanpa memprovokasi Beijing.

Generasi Muda dan Masa Depan Taiwan

Generasi muda Taiwan, yang tidak punya ikatan emosional dengan Tiongkok, cenderung mendukung kemerdekaan. Dengan semakin kuatnya demokrasi dan ekonomi Taiwan, tekanan untuk lepas dari bayang-bayang Beijing juga makin besar.

Kesimpulan: Konflik yang Masih Akan Berlangsung Lama

Asal usul konflik Taiwan dan China berakar dari sejarah panjang yang kompleks, bukan sekadar perebutan wilayah. Data Taiwan dan angka Taiwan membuktikan bahwa rakyat Taiwan sudah punya identitas sendiri dan ingin mempertahankan kebebasan mereka.

Selama Beijing masih menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, dan Taiwan terus memperkuat identitas nasionalnya, konflik ini akan terus menjadi sumber ketegangan global.

Namun satu hal yang pasti: dunia semakin memperhatikan dan mendukung Taiwan, bukan karena ingin perang, tapi karena demokrasi dan kebebasan layak untuk diperjuangkan.

Berlangganan berita gratis di Whatsapp Channel
Baca Juga:  Eks Bos Tsinghua Unigroup Dijatuhi Hukuman Mati karena Korupsi
Dunia Sudah Canggih! Kreatiflah Sedikit...