RusdiMedia.com
Kesehatan

Benarkah Kurang Tidur Dapat Menyebabkan Kematian? Begini Penjelasannya!

R
Rama Runov
· 12 menit baca
Benarkah Kurang Tidur Dapat Menyebabkan Kematian? Begini Penjelasannya!

Kurang tidur sering dianggap masalah ringan yang cukup diselesaikan dengan kopi pada pagi hari.

Padahal, tidur bukan sekadar waktu ketika kita memejamkan mata dan berharap alarm lupa berbunyi.

Tidur merupakan kebutuhan biologis yang membantu otak, jantung, sistem imun, metabolisme, dan berbagai fungsi tubuh bekerja normal.

Lalu, benarkah kurang tidur dapat menyebabkan kematian?

Jawaban singkatnya: kurang tidur biasa tidak serta-merta membuat seseorang meninggal setelah satu atau dua malam begadang.

Namun, kekurangan tidur yang berlangsung terus-menerus berkaitan dengan risiko penyakit kronis dan kematian yang lebih tinggi.

Selain itu, kantuk berat bisa menyebabkan kecelakaan fatal dalam waktu singkat.

National Heart, Lung, and Blood Institute atau NHLBI menyebut kekurangan tidur dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan, cedera, dan kemungkinan kematian.

Jadi, masalahnya lebih rumit daripada rumus "tidur sedikit = langsung meninggal".

Mari membahasnya tanpa drama, tetapi juga tanpa meremehkan.

Apa yang Dimaksud dengan Kurang Tidur?

Kurang tidur terjadi ketika seseorang tidak mendapatkan waktu atau kualitas tidur yang dibutuhkan tubuh.

Masalahnya tidak selalu berarti Anda tidur hanya dua jam.

Seseorang dapat tidur tujuh jam tetapi berkali-kali terbangun sehingga kualitas tidurnya buruk.

Sebaliknya, orang lain mungkin tidur nyenyak, tetapi hanya lima jam setiap malam.

Keduanya dapat mengalami kekurangan tidur.

NHLBI menggunakan istilah sleep deficiency untuk kondisi yang mencakup waktu tidur tidak cukup, tidur pada waktu yang salah, atau kualitas tidur buruk.

Karena itu, durasi hanyalah satu bagian dari kesehatan tidur.

Berapa Jam Tidur yang Dibutuhkan Orang Dewasa?

Kebutuhan tidur berubah menurut usia.

CDC menyebut orang dewasa usia 18–60 tahun umumnya membutuhkan setidaknya tujuh jam tidur per hari.

Usia 61–64 tahun biasanya membutuhkan sekitar tujuh sampai sembilan jam.

Sementara orang berusia 65 tahun ke atas umumnya membutuhkan tujuh sampai delapan jam.

American Academy of Sleep Medicine juga merekomendasikan orang dewasa sehat tidur setidaknya tujuh jam secara rutin.

Namun, angka tersebut bukan tombol ajaib.

Tidur delapan jam dengan puluhan kali terbangun tentu berbeda dengan tidur tujuh jam yang nyenyak.

Apakah Tidur 5 Jam Sudah Cukup?

Bagi sebagian besar orang dewasa, tidur lima jam secara rutin berada di bawah rekomendasi.

Tubuh mungkin terasa mampu beradaptasi.

Namun, merasa "sudah terbiasa" tidak selalu berarti tubuh bebas dari dampaknya.

NHLBI bahkan menyebut anggapan bahwa manusia bisa membiasakan diri hidup dengan sedikit tidur tanpa konsekuensi sebagai sebuah mitos.

Tubuh memang hebat beradaptasi.

Sayangnya, tubuh juga kadang hebat menyembunyikan tagihan sampai jatuh tempo.

Jadi, Apakah Kurang Tidur Bisa Menyebabkan Kematian?

Secara medis, jawabannya harus dibedakan antara efek langsung dan tidak langsung.

Satu malam kurang tidur pada orang sehat biasanya tidak menyebabkan kematian secara langsung.

Namun, kondisi itu dapat menurunkan konsentrasi, memperlambat reaksi, dan meningkatkan kesalahan.

Jika terjadi saat mengemudi atau mengoperasikan mesin, konsekuensinya bisa fatal.

Sementara itu, kurang tidur kronis berhubungan dengan meningkatnya risiko hipertensi, penyakit jantung, stroke, diabetes, obesitas, dan gangguan kesehatan lainnya.

Penyakit-penyakit tersebut kemudian dapat meningkatkan risiko kematian dalam jangka panjang.

Jadi, hubungan antara tidur dan kematian lebih tepat dilihat sebagai jaringan risiko.

Bukan seperti sakelar yang langsung berubah dari "begadang" menjadi "fatal".

Penelitian Menemukan Hubungan Durasi Tidur dan Risiko Kematian

Sejumlah penelitian observasional telah meneliti durasi tidur dan mortalitas.

Sebuah meta-analisis terhadap 40 studi kohort prospektif melibatkan lebih dari 2,2 juta peserta.

Peneliti menemukan pola berbentuk J antara durasi tidur dan risiko kematian dari semua penyebab.

Dibandingkan tidur tujuh jam, durasi tidur yang lebih pendek maupun jauh lebih panjang berkaitan dengan peningkatan risiko mortalitas.

Meta-analisis lain juga menemukan hubungan antara tidur pendek dan peningkatan risiko kematian dari semua penyebab.

Namun, ada satu catatan penting.

Baca juga: Penting! Ini 10 Penyebab Gagal Ginjal yang Harus Diwaspadai

Studi observasional menunjukkan hubungan, bukan selalu membuktikan bahwa durasi tidur menjadi penyebab tunggal kematian.

Seseorang yang tidur sangat sedikit mungkin juga memiliki stres berat, penyakit kronis, pekerjaan shift, atau masalah kesehatan lain.

Demikian pula, tidur sangat lama bisa menjadi tanda adanya penyakit.

Karena itu, angka penelitian tidak boleh diterjemahkan menjadi "tidur enam jam meningkatkan risiko sekian persen untuk setiap orang".

Kesehatan manusia tidak sesederhana kalkulator diskon supermarket.

Mengapa Kurang Tidur Bisa Berdampak pada Jantung?

Jantung termasuk organ yang sangat dipengaruhi pola tidur.

Saat tidur normal, tekanan darah biasanya turun.

Jika tidur terganggu atau terlalu singkat, tubuh kehilangan sebagian periode pemulihan tersebut.

CDC menjelaskan bahwa masalah tidur dapat membuat tekanan darah berada pada tingkat lebih tinggi dalam waktu lebih lama.

Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke.

Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa kurang tidur dapat berhubungan dengan peningkatan tekanan darah dan gangguan kesehatan kardiovaskular.

Kurang Tidur dan Sistem Saraf

Ketika tubuh kekurangan istirahat, aktivitas sistem saraf simpatik dapat meningkat.

Ini merupakan sistem yang ikut bekerja ketika tubuh menghadapi stres.

Dalam kondisi tertentu, peningkatan aktivitas tersebut dapat memengaruhi tekanan darah dan denyut jantung.

Artikel Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes juga membahas kaitan kekurangan tidur dengan regulasi tekanan darah dan sistem kardiovaskular.

Sekali lagi, satu malam lembur bukan berarti jantung otomatis bermasalah.

Masalah lebih besar muncul ketika kebiasaan itu menjadi menu harian.

Kurang Tidur Bisa Mengganggu Gula Darah

Tidur juga berhubungan erat dengan metabolisme.

NHLBI menjelaskan bahwa kekurangan tidur dapat memengaruhi cara tubuh merespons insulin.

Akibatnya, kadar gula darah dapat menjadi lebih tinggi dari normal.

Dalam jangka panjang, pola ini dapat ikut meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

CDC juga mencatat hubungan antara tidur yang tidak cukup dengan diabetes dan gangguan metabolik.

Jadi, mengatur pola makan tanpa memperhatikan tidur seperti membersihkan satu sisi rumah sambil membiarkan sisi lain berantakan.

Keduanya saling berhubungan.

Mengapa Kurang Tidur Bisa Memicu Kenaikan Berat Badan?

Pernah merasa ingin makan makanan manis setelah begadang?

Ada penjelasan biologis di baliknya.

NHLBI menjelaskan bahwa tidur memengaruhi hormon ghrelin dan leptin yang berkaitan dengan rasa lapar dan kenyang.

Ketika tidur tidak cukup, ghrelin dapat meningkat sedangkan leptin menurun.

Hasilnya, seseorang bisa lebih mudah merasa lapar.

Belum lagi ketika tubuh kelelahan, keinginan olahraga biasanya berubah menjadi keinginan rebahan sambil memesan makanan.

Dalam jangka panjang, kombinasi tersebut dapat berkontribusi terhadap obesitas.

Obesitas sendiri berkaitan dengan berbagai penyakit kronis.

Dampak Kurang Tidur pada Otak Bisa Terjadi Lebih Cepat

Efek terhadap jantung dan metabolisme mungkin terasa seperti masalah jangka panjang.

Namun, dampaknya pada fungsi otak dapat muncul jauh lebih cepat.

NHLBI menyebut kekurangan tidur dapat mengganggu kemampuan belajar, fokus, mengambil keputusan, mengingat, dan mengatur emosi.

Waktu reaksi juga melambat.

Kesalahan menjadi lebih sering.

Pekerjaan sederhana bisa terasa seperti ujian nasional dadakan.

Apa Itu Microsleep?

Salah satu dampak paling berbahaya adalah microsleep.

Microsleep merupakan episode tidur yang sangat singkat ketika seseorang sebenarnya sedang berusaha tetap terjaga.

Masalahnya, seseorang tidak selalu sadar bahwa microsleep terjadi.

NHLBI mencontohkan kondisi ini dapat muncul ketika mengemudi atau melakukan aktivitas monoton.

Bayangkan kendaraan bergerak dengan kecepatan tinggi sementara pengemudinya "hilang" selama beberapa detik.

Itulah alasan kurang tidur dapat menyebabkan kematian secara tidak langsung dalam waktu cepat.

Baca juga: GERD vs Serangan Jantung: Membedah Mitos dan Fakta yang Bikin Panik Netizen

Kurang Tidur dan Kecelakaan Fatal

Kantuk saat mengemudi merupakan masalah keselamatan serius.

Reaksi menjadi lambat.

Konsentrasi menurun.

Kemampuan membuat keputusan ikut terganggu.

MedlinePlus mencatat bahwa kelelahan dan rasa kantuk berhubungan dengan kecelakaan kendaraan serta kecelakaan kerja.

Jadi, bahaya begadang tidak hanya terletak pada penyakit yang mungkin muncul puluhan tahun kemudian.

Risikonya dapat berada di jalan raya pada pagi berikutnya.

Jika mata terasa berat dan fokus mulai hilang, jangan menganggap membuka jendela atau menaikkan volume musik sebagai obat.

Tubuh sedang meminta tidur, bukan konser.

Apa yang Terjadi Jika Tidak Tidur Semalaman?

Setelah satu malam tanpa tidur, seseorang biasanya mengalami penurunan perhatian dan kemampuan berpikir.

Mood juga dapat berubah.

Mudah marah, sulit berkonsentrasi, dan mengantuk berat merupakan keluhan umum.

Setelah beberapa malam kehilangan satu sampai dua jam tidur, kemampuan berfungsi dapat terus menurun.

NHLBI menyebut akumulasi kehilangan tidur selama beberapa malam dapat mengganggu fungsi seolah seseorang tidak tidur selama satu atau dua hari.

Kondisi tersebut jelas tidak ideal untuk mengemudi, mengambil keputusan penting, atau bekerja dengan mesin berbahaya.

Apakah Manusia Bisa Meninggal karena Tidak Tidur Sama Sekali?

Pertanyaan ini sering muncul karena cerita ekstrem di internet.

Pada manusia sehat, penelitian eksperimental yang sengaja membuat orang tidak tidur sampai meninggal jelas tidak etis.

Karena itu, kita tidak memiliki angka sederhana seperti "manusia akan meninggal setelah X hari tanpa tidur".

Tubuh juga memiliki dorongan tidur yang sangat kuat.

Semakin lama seseorang terjaga, semakin sulit mempertahankan kesadaran penuh.

Microsleep dapat muncul tanpa disadari.

Dengan kata lain, otak terkadang mengambil "cicilan tidur" tanpa meminta izin.

Bagaimana dengan Fatal Familial Insomnia?

Anda mungkin pernah mendengar penyakit bernama fatal familial insomnia atau FFI.

Nama penyakitnya memang terdengar menyeramkan.

Namun, FFI bukan akibat kebiasaan begadang atau kurang tidur biasa.

National Institute of Neurological Disorders and Stroke menjelaskan bahwa FFI merupakan penyakit prion yang menyebabkan insomnia progresif dan gangguan sistem saraf.

Bentuk familialnya biasanya berkaitan dengan mutasi pada gen PRNP.

Penyakit ini sangat berbeda dari insomnia umum akibat stres, kerja malam, atau kebanyakan menonton serial sampai subuh.

Jangan melihat istilah "fatal insomnia" lalu berpikir semua insomnia akan berakhir seperti itu.

Itu kesimpulan yang salah.

Kurang Tidur Juga Memengaruhi Sistem Imun

Tidur membantu sistem pertahanan tubuh bekerja optimal.

Saat kita tidur, berbagai proses pemulihan berlangsung.

NHLBI menjelaskan bahwa kekurangan tidur berkepanjangan dapat mengubah respons pertahanan alami tubuh terhadap infeksi.

Artinya, tidur bukan obat ajaib yang menjamin kita tidak pernah sakit.

Namun, tidur cukup merupakan salah satu bagian penting dari sistem kesehatan tubuh.

Makan sehat sambil tidur tiga jam setiap malam bukan strategi kebugaran yang terlalu brilian.

Apakah Tidur Lama di Akhir Pekan Bisa Membayar Utang Tidur?

Tidur lebih lama setelah beberapa hari kekurangan istirahat memang bisa membuat tubuh terasa lebih segar.

Namun, efeknya tidak sesederhana membayar utang di kasir.

NHLBI menjelaskan bahwa tidur tambahan dapat membantu, tetapi tidur siang atau tidur lebih lama tidak selalu menggantikan seluruh manfaat tidur malam yang hilang.

Perubahan drastis jam tidur pada akhir pekan juga dapat mengganggu ritme tidur-bangun.

Karena itu, pola yang konsisten biasanya lebih baik dibanding sistem "Senin sampai Jumat tersiksa, Sabtu hibernasi".

Tanda Tubuh Mungkin Kurang Tidur

Tubuh biasanya memberikan tanda sebelum masalah menjadi berat.

Gejalanya tidak selalu berupa menguap nonstop.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi:

Baca juga: Hand Sanitizer Tidak Cukup: Pelajari Kapan Harus Mencuci Tangan dengan Sabun dan Air

  • mengantuk berat pada siang hari;

  • sulit berkonsentrasi;

  • mudah lupa;

  • emosi lebih mudah berubah;

  • reaksi terasa lambat;

  • sering tertidur tanpa sengaja;

  • sulit bangun meski alarm sudah berbunyi berkali-kali;

  • membutuhkan kafein berlebihan agar dapat berfungsi.

NHLBI menyebut rasa mengantuk saat membaca, duduk diam, menonton, atau berkendara sebagai beberapa petunjuk kekurangan tidur.

Jika kondisi tersebut terjadi terus-menerus, jangan hanya menyalahkan diri sendiri sebagai "pemalas".

Mungkin ada masalah tidur yang perlu diperiksa.

Penyebab Kurang Tidur Tidak Selalu karena Begadang

Kebiasaan tidur larut memang salah satu penyebab umum.

Namun, tidak semua orang yang kekurangan tidur sengaja mengorbankan waktu istirahat.

Insomnia dapat menyebabkan kesulitan memulai atau mempertahankan tidur.

Sleep apnea dapat membuat napas berhenti berulang sehingga kualitas tidur terganggu.

Selain itu, kerja shift, stres, kecemasan, nyeri kronis, obat tertentu, dan kondisi medis juga dapat menyebabkan masalah.

CDC menyarankan seseorang berbicara dengan tenaga kesehatan jika masalah tidur terjadi secara rutin.

Kapan Kurang Tidur Perlu Diperiksakan ke Dokter?

Satu malam tidur buruk biasanya bukan keadaan darurat.

Namun, masalah berbeda jika pola tersebut terjadi terus-menerus.

Pertimbangkan pemeriksaan bila Anda rutin kesulitan tidur, terus merasa lelah setelah tidur, atau sering tertidur tanpa sengaja.

Mendengkur keras yang disertai napas terhenti juga perlu diperhatikan.

Gejala tersebut dapat berkaitan dengan sleep apnea.

NHLBI menjelaskan bahwa pemeriksaan tidur dapat digunakan untuk mendiagnosis sleep apnea, narkolepsi, gangguan gerakan saat tidur, dan kondisi lain.

Jika rasa mengantuk membuat Anda hampir mengalami kecelakaan, jangan tunggu masalah tersebut terulang.

Keselamatan datang lebih dulu.

Cara Memperbaiki Pola Tidur

Tidak semua masalah tidur dapat diselesaikan hanya dengan "tidur lebih cepat".

Namun, kebiasaan tidur sehat dapat membantu banyak orang.

CDC menyarankan jadwal tidur dan bangun yang konsisten, aktivitas fisik, paparan cahaya alami, dan pengurangan cahaya terang menjelang tidur.

Lingkungan kamar juga berpengaruh.

Ruangan yang gelap, tenang, dan nyaman umumnya lebih mendukung tidur.

Batasi kafein mendekati malam bila Anda sensitif terhadap efeknya.

Dan mungkin ponsel tidak harus menemani sampai Anda hafal semua video yang lewat di layar.

Kualitas Tidur Sama Pentingnya dengan Durasi

Mengejar angka delapan jam belum tentu menyelesaikan semuanya.

CDC menekankan bahwa tidur sehat mencakup durasi dan kualitas.

Sering terbangun pada malam hari merupakan salah satu tanda kualitas tidur buruk.

Begitu pula tetap merasa lelah setelah tidur cukup lama.

Jika hal tersebut terus terjadi, evaluasi gangguan tidur bisa lebih berguna daripada sekadar menambah waktu rebahan.

Kesimpulan: Kurang Tidur Bukan Hal Sepele

Jadi, benarkah kurang tidur dapat menyebabkan kematian?

Jawaban yang paling tepat adalah: tidak sesederhana kurang tidur satu malam lalu tubuh tiba-tiba berhenti bekerja.

Namun, kekurangan tidur kronis berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, hipertensi, diabetes, obesitas, dan masalah kesehatan lain.

Dalam jangka pendek, bahayanya juga nyata.

Kantuk berat dan microsleep dapat menyebabkan kecelakaan yang berakibat fatal.

Bukti penelitian menunjukkan adanya hubungan antara durasi tidur yang terlalu pendek dan peningkatan risiko kematian dari semua penyebab.

Karena itu, tidur sebaiknya dipandang sebagai kebutuhan kesehatan.

Bukan bonus yang baru dilakukan kalau seluruh pekerjaan sudah selesai.

Bagi sebagian besar orang dewasa, target setidaknya tujuh jam tidur berkualitas setiap hari merupakan titik awal yang masuk akal.

Jika kurang tidur terjadi terus-menerus meskipun sudah mencoba memperbaiki kebiasaan, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Kadang masalahnya bukan kurang disiplin.

Bisa saja ada insomnia, sleep apnea, gangguan ritme tidur, atau kondisi medis lain yang membutuhkan penanganan.

Disclaimer

Artikel ini bertujuan memberikan informasi kesehatan umum dan bukan pengganti diagnosis, pemeriksaan, atau saran medis profesional.

Jika Anda mengalami kantuk ekstrem, kesulitan tidur berkepanjangan, gangguan napas saat tidur, atau keluhan kesehatan lain, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah kurang tidur dapat menyebabkan kematian?+

Kurang tidur yang biasa tidak langsung menyebabkan kematian setelah satu atau dua malam begadang. Namun, kekurangan tidur yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko penyakit kronis dan kematian. Selain itu, kantuk berat bisa menyebabkan kecelakaan fatal dalam waktu singkat.

Berapa jam tidur yang dibutuhkan orang dewasa?+

Orang dewasa usia 18–60 tahun umumnya membutuhkan setidaknya tujuh jam tidur per hari. Usia 61–64 tahun biasanya membutuhkan sekitar tujuh sampai sembilan jam, sementara orang berusia 65 tahun ke atas umumnya membutuhkan tujuh sampai delapan jam.

Apa yang dimaksud dengan kurang tidur?+

Kurang tidur terjadi ketika seseorang tidak mendapatkan waktu atau kualitas tidur yang dibutuhkan tubuh. Ini bisa berarti tidur dalam durasi yang tidak cukup, tidur pada waktu yang salah, atau memiliki kualitas tidur yang buruk.

Apakah tidur 5 jam sudah cukup untuk orang dewasa?+

Bagi sebagian besar orang dewasa, tidur lima jam secara rutin berada di bawah rekomendasi. Meskipun tubuh mungkin terasa mampu beradaptasi, ini tidak berarti tubuh bebas dari dampaknya. NHLBI menyebut anggapan bahwa manusia bisa membiasakan diri hidup dengan sedikit tidur tanpa konsekuensi sebagai sebuah mitos.

Apa risiko kesehatan dari kurang tidur kronis?+

Kurang tidur kronis berhubungan dengan meningkatnya risiko hipertensi, penyakit jantung, stroke, diabetes, obesitas, dan gangguan kesehatan lainnya. Penyakit-penyakit tersebut dapat meningkatkan risiko kematian dalam jangka panjang.

Komentar

Komentar tidak boleh berisi tautan/link dan akan tampil setelah disetujui moderator.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!