Scroll untuk baca artikel
Olahraga

Jay Idzes: Dari Kapten Garuda ke Tembok Kokoh Sassuolo

×

Jay Idzes: Dari Kapten Garuda ke Tembok Kokoh Sassuolo

Sebarkan artikel ini
020766500_1756003912-jay_1
Baca Berita Terupdate di Saluran Whatsapp Gratis

Jay Idzes, bek tangguh sekaligus kapten Timnas Indonesia, tengah menjalani babak baru yang penuh warna dalam karier sepak bolanya. Setelah dua musim mengenakan seragam Venezia, pemain kelahiran Belanda berdarah Indonesia ini resmi pindah ke Sassuolo pada bursa transfer musim panas 2025. Sebuah langkah yang tak hanya menantang, tapi juga menggambarkan keberanian untuk terus tumbuh di level tertinggi.

Dari Venezia ke Sassuolo: Langkah yang Penuh Arti

Bagi Jay, kepindahan ke Sassuolo bukan sekadar soal kontrak panjang hingga 2029. Ia datang bersama rekan setimnya, Fali Cande, setelah Venezia harus turun kasta dari Serie A. Namun, alih-alih larut dalam kekecewaan, Jay melihat peluang baru. Ia menyebut Sassuolo sebagai klub yang benar-benar percaya pada potensinya.

Iklan

“Saya memilih Sassuolo karena mereka menunjukkan ketertarikan yang besar kepada saya. Klub ini punya sejarah panjang dan reputasi hebat di Serie A. Ini tantangan baru yang sangat saya butuhkan,” ujarnya dalam wawancara resmi klub.

Sejak mengenakan seragam hijau-hitam, Jay langsung menunjukkan kualitasnya. Meski absen di laga pertama musim 2025/2026 melawan Napoli, ia kemudian tampil sebagai starter di enam pertandingan beruntun — menghadapi Cremonese, Lazio, Inter Milan, Udinese, Hellas Verona, dan Lecce. Selama 540 menit di lapangan, ia jadi tembok kokoh di lini belakang Sassuolo.

Baca Juga:  Sassuolo Tantang Como 1907 di Coppa Italia, Jay Idzes Jadi Sorotan

Adaptasi Cepat dan Hubungan Erat dengan Pelatih

Kunci adaptasi cepat Jay di Sassuolo adalah hubungan baiknya dengan pelatih Fabio Grosso. Sosok yang dikenal sebagai legenda Piala Dunia 2006 itu menjadi salah satu alasan utama Jay bergabung.

“Pelatih Grosso meyakinkan saya bahwa Sassuolo punya sejarah besar dan organisasi yang sangat baik. Ia juga ingin saya berkembang di sini, dan itu membuat saya tertarik,” kata Jay.

Bagi Jay, hubungan antara pemain dan pelatih bukan sekadar profesional. Ia menilai komunikasi dan kepercayaan jadi fondasi utama membangun tim yang solid. Grosso pun tampak percaya penuh padanya, menjadikannya starter reguler di awal musim.

Dukungan dari Rekan dan Lingkungan yang Positif

Sebelum memutuskan bergabung, Jay sempat mencari tahu lebih dalam tentang Sassuolo. Salah satu sumber informasinya adalah Alfred Duncan, mantan pemain Sassuolo yang menjadi rekan setimnya di Venezia.

“Saya sempat berbicara dengan Alfred Duncan. Ia bercerita banyak hal positif tentang klub ini — mulai dari fasilitas, suasana latihan, hingga dukungan staf. Itu membantu saya membuat keputusan,” ujarnya.

Ketika akhirnya tiba di Sassuolo, Jay mengaku terkesan. Klub ini ternyata lebih terorganisasi dan modern dari yang ia bayangkan. Dukungan penuh dari manajemen membuat para pemain bisa fokus sepenuhnya pada performa.

Baca Juga:  Venezia Terancam Degradasi, Jay Idzes Tetap Optimistis Hadapi Lima Laga Tersisa

“Saya tahu klub ini bagus, tapi ketika melihat langsung, saya tetap terkejut. Semuanya terstruktur dengan sangat baik, dan setiap orang tahu perannya,” kata Jay sambil tersenyum.

Tujuan yang Realistis, Semangat yang Besar

Sassuolo mungkin bukan tim yang menargetkan gelar juara musim ini. Namun, Jay melihat misi mereka tetap penting: bertahan di Serie A dan bersaing di papan tengah. Ia menilai perjuangan semacam ini justru memacu semangatnya.

“Musim ini berbeda. Kami tidak menargetkan memenangkan liga, tapi ingin tetap berada di Serie A dan mencapai posisi tertinggi yang bisa kami raih. Itulah yang sedang kami kejar,” ujarnya tegas.

Di balik kalimat sederhana itu, tersimpan tekad besar seorang pemain yang tak pernah puas dengan pencapaian. Sebagai kapten Timnas Indonesia, Jay membawa mental juara ke setiap klub yang ia bela. Ia percaya, disiplin dan kerja keras bukan hanya soal latihan, tapi juga tentang karakter.

Sosok Tenang dengan Jiwa Pemimpin

Di dalam maupun luar lapangan, Jay dikenal sebagai sosok yang tenang dan fokus. Ia jarang terlihat emosional berlebihan, tapi setiap tindakannya menunjukkan kepemimpinan. Para rekan setim di Sassuolo bahkan mulai menyebutnya sebagai pemain yang memberi rasa aman di lini belakang.

Baca Juga:  Timnas Indonesia Kembali Gunakan Jersey Merah Saat Hadapi Irak di Kualifikasi Piala Dunia 2026

Ketika ditanya soal ambisinya ke depan, Jay tidak banyak bicara tentang popularitas. Ia lebih tertarik membicarakan perkembangan dirinya dan tim.

“Yang terpenting bagi saya adalah terus belajar. Setiap pertandingan memberi pengalaman baru. Saya ingin meninggalkan jejak, tapi bukan hanya lewat trofi — juga lewat dedikasi dan etos kerja,” katanya.

Jay Idzes: Antara Italia dan Indonesia

Meski kini bermain di Italia, Jay tak pernah melupakan tanah airnya, Indonesia. Ia tetap mengikuti perkembangan sepak bola nasional dan mengaku selalu bangga mengenakan seragam Merah Putih.

“Setiap kali bermain untuk Indonesia, saya merasa ada sesuatu yang berbeda. Ada rasa tanggung jawab yang besar,” ujarnya.

Perjalanan Jay di Sassuolo baru dimulai, tapi kisahnya sudah menunjukkan banyak hal: keberanian untuk melangkah, kerendahan hati dalam berkembang, dan semangat untuk membawa nama bangsa di panggung dunia. Dalam usianya yang masih 25 tahun, masa depannya tampak cerah — bukan hanya untuk klubnya, tapi juga untuk Indonesia. (***)

Berlangganan berita gratis di Whatsapp Channel
Dunia Sudah Canggih! Kreatiflah Sedikit...