Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang sering lupa bahwa kekuatan terbesar manusia bukan hanya pada tangan atau pikiran, tapi juga pada lisan. Dalam Islam, menjaga lisan bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian dari keimanan yang sangat ditekankan. Hadits menjaga lisan menjadi pedoman agar setiap perkataan membawa manfaat, bukan mudarat.
Apa Itu Hadits Menjaga Lisan?
Hadits menjaga lisan adalah ajaran Rasulullah SAW yang mengingatkan umat Islam untuk berhati-hati dalam berbicara. Salah satu hadits yang paling terkenal berbunyi:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Makna hadits ini sangat dalam. Rasulullah SAW menegaskan bahwa ucapan mencerminkan kualitas iman seseorang. Jika lisan tak dijaga, ia bisa menjadi sumber dosa yang besar seperti fitnah, ghibah, dan kebohongan.
Mengapa Menjaga Lisan Itu Penting?
Setiap kata yang keluar dari mulut memiliki dampak. Dalam psikologi komunikasi, kata-kata bisa membangun atau meruntuhkan suasana hati seseorang. Islam menyadari hal ini jauh sebelum ilmu modern membahasnya.
Dengan menjaga lisan, seseorang melatih diri untuk berpikir sebelum berbicara. Kebiasaan ini meningkatkan kecerdasan emosional, memperkuat hubungan sosial, dan menjauhkan diri dari konflik. Rasulullah SAW bahkan menyebutkan bahwa banyak orang tergelincir ke neraka bukan karena perbuatan tangan, melainkan karena ucapan.
Nilai Spiritual dari Hadits Menjaga Lisan
Secara spiritual, menjaga lisan termasuk bentuk tazkiyatun nafs atau penyucian diri. Ucapan yang baik mengundang malaikat untuk mencatat amal, sementara kata buruk bisa menghapus pahala.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa lidah adalah cermin hati. Jika hati bersih, ucapan akan lembut dan menenangkan. Sebaliknya, jika hati kotor, lisan akan mudah mencela, mengumpat, atau menyebar kebencian.
Dampak Buruk dari Lisan yang Tidak Dijaga
Banyak konflik besar bermula dari ucapan kecil. Fitnah, salah paham, dan kebencian sering kali tumbuh dari kata yang diucapkan tanpa niat buruk, namun disampaikan dengan cara yang salah.
- Ghibah (menggunjing): Membicarakan keburukan orang lain tanpa kehadirannya. Ini termasuk dosa besar yang sering dianggap remeh.
- Namimah (adu domba): Menyebarkan ucapan seseorang kepada pihak lain untuk menimbulkan konflik.
- Bohong: Sekali berdusta, kepercayaan sulit dikembalikan. Rasulullah SAW menegaskan bahwa kebohongan adalah jalan menuju nifaq.
- Ujaran kebencian: Dalam konteks modern, ini termasuk menyebar hoaks atau ujaran provokatif di media sosial.
Hadits-Hadits Lain tentang Menjaga Lisan
Selain hadits utama tadi, ada banyak riwayat yang menekankan hal serupa. Misalnya:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu perkataan yang diridhai Allah, tanpa ia sadari, namun Allah mengangkat derajatnya karenanya. Dan seorang hamba juga bisa mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah, tanpa ia sadari, maka ia dilemparkan ke dalam neraka karena ucapannya itu.”
(HR. Bukhari)
Hadits ini memperlihatkan bahwa setiap kata memiliki konsekuensi. Maka, bijaklah sebelum berbicara.
Cara Praktis Menjaga Lisan di Era Digital
Menjaga lisan di zaman Rasulullah mungkin berarti menjaga apa yang diucapkan langsung. Namun, di era digital, konsep ini meluas ke “menjaga jari” — apa yang kita tulis di media sosial.
Berikut beberapa cara praktis:
- Tahan diri sebelum menulis komentar. Pikirkan apakah komentar itu bermanfaat atau justru menyinggung.
- Verifikasi informasi. Jangan langsung menyebar berita tanpa sumber jelas.
- Gunakan kata positif. Ucapkan sesuatu yang menenangkan, bukan memancing emosi.
- Biasakan diam jika tidak tahu. Seperti sabda Nabi, “Diam adalah bagian dari kebijaksanaan.”
Manfaat Menjaga Lisan bagi Kesehatan Mental dan Sosial
Menjaga lisan bukan hanya ibadah, tapi juga terapi psikologis. Orang yang mampu mengontrol ucapan cenderung lebih tenang dan tidak mudah stres. Menghindari debat yang tidak perlu, gosip, dan komentar negatif membuat pikiran lebih jernih.
Dari sisi sosial, orang yang menjaga lisannya lebih disukai banyak orang. Ia dipercaya, dihormati, dan diandalkan dalam komunitas. Tidak heran jika Rasulullah SAW menyebut orang seperti ini sebagai sebaik-baik manusia.
Menjaga Lisan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Mulai dari lingkungan rumah, tempat kerja, hingga media sosial, menjaga lisan adalah investasi karakter. Saat berbicara dengan anak, gunakan kata yang lembut. Saat berinteraksi dengan rekan kerja, hindari kata yang menjatuhkan.
Di dunia digital, banyak orang kehilangan kendali atas ucapannya karena terlindung oleh layar. Padahal, dosa dari ucapan online sama besarnya dengan ucapan langsung. Itulah mengapa menjaga lisan di dunia maya sama pentingnya dengan di dunia nyata.
Pandangan Ulama tentang Menjaga Lisan
Para ulama sepakat bahwa menjaga lisan adalah ciri utama orang beriman. Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ al-Ulum wal Hikam mengatakan, “Tidak akan lurus iman seseorang sebelum lurus lisannya.” Artinya, iman dan ucapan memiliki hubungan yang tak terpisahkan.
Sementara itu, Imam Nawawi menegaskan bahwa salah satu bentuk dzikir terbaik adalah diam dari hal yang tidak bermanfaat. Menurut beliau, seseorang tidak akan menyesal karena diam, tapi sering menyesal karena berbicara berlebihan.
Refleksi Pribadi: Belajar dari Hadits Menjaga Lisan
Dalam pandangan saya sebagai penulis dan pengamat sosial, hadits menjaga lisan adalah ajaran yang relevan di setiap zaman. Dunia modern yang serba cepat membuat banyak orang berbicara sebelum berpikir. Kita lupa bahwa setiap kata bisa menjadi peluru yang melukai hati orang lain.
Namun, hadits ini bukan hanya peringatan, tapi juga solusi. Jika diterapkan, masyarakat akan lebih harmonis, dunia maya lebih sehat, dan hati manusia lebih damai.
Kesimpulan
Hadits menjaga lisan bukan sekadar ajaran moral, tapi panduan hidup yang penuh hikmah. Dengan menjaga lisan, kita menjaga kehormatan diri, melindungi hubungan sosial, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ingatlah, kata yang baik adalah sedekah, sementara kata yang buruk bisa menjadi beban di akhirat.
Mari jadikan hadits ini sebagai pedoman dalam berbicara, menulis, dan berinteraksi setiap hari. Karena dari lisan, kita dikenal; dari ucapan, kita dinilai.







