Pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, melakukan sejumlah perubahan signifikan dalam laga kontra Irak pada pertandingan kedua Grup B putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Meski strategi baru itu membawa peningkatan permainan, skuad Garuda tetap harus mengakui keunggulan Irak dengan skor tipis 0-1 di King Abdullah Sports City Stadium, Jeddah.
Kekalahan ini memastikan langkah Timnas Indonesia terhenti di babak kualifikasi. Namun, secara permainan, performa Merah Putih kali ini mendapat apresiasi karena menunjukkan peningkatan dibandingkan saat menghadapi Arab Saudi.
Perombakan Besar di Starting XI
Patrick Kluivert berani mengambil risiko dengan merombak susunan pemain inti. Dari sebelas pemain yang tampil sejak menit awal, terdapat lima perubahan dari laga sebelumnya. Di lini pertahanan, Rizky Ridho kembali dipercaya tampil, sementara di sektor tengah Kluivert memasang Calvin Verdonk dan Thom Haye sejak awal.
Dua wajah baru juga muncul di lini depan, yaitu Eliano Reijnders yang menempati posisi sayap kanan dan Mauro Zijlstra yang diplot sebagai striker utama. Kombinasi pemain ini memberi warna baru pada pola serangan Indonesia.
Sejak peluit awal dibunyikan, skuad Garuda menunjukkan permainan yang lebih hidup dan terorganisir. Umpan-umpan pendek dan transisi cepat menjadi ciri khas permainan Indonesia di bawah komando Kluivert malam itu.
Formasi Fleksibel dan Peran Tiga Bek
Secara formasi, Kluivert tetap mengandalkan sistem dasar yang sama seperti laga sebelumnya. Namun, dalam praktiknya, Indonesia menerapkan pola dinamis dengan tiga bek sejajar saat membangun serangan. Kevin Diks di sisi kanan kerap bergeser ke dalam, membentuk trio bersama Jay Idzes dan Rizky Ridho.
Peran Diks dalam fase build-up menjadi elemen penting dalam aliran bola dari belakang. Ia tak hanya berfungsi sebagai bek kanan, tetapi juga menjadi penghubung antara lini belakang dan tengah. Saat memasuki area lawan, Diks kembali ke posisi aslinya untuk membantu serangan di sisi sayap.
Sementara di sisi kiri, Dean James menjaga keseimbangan dengan tetap disiplin dalam bertahan sekaligus mendukung serangan melalui overlap cepat. Pola ini membuat serangan Indonesia lebih bervariasi dan sulit ditebak.
Lini Tengah Lebih Hidup
Salah satu aspek paling menonjol dari perubahan taktik Kluivert adalah kestabilan di lini tengah. Duet Calvin Verdonk dan Joey Pelupessy tampil solid dalam menjaga ritme permainan dan distribusi bola, sedangkan Thom Haye menjadi otak serangan yang mengatur tempo serta arah permainan.
Berbeda dari laga sebelumnya ketika Marc Klok dipasang dan membuat serangan Indonesia cenderung buntu, kombinasi baru ini menghadirkan aliran bola yang lebih lancar. Verdonk dan Haye menjadi pemain paling aktif dalam membangun serangan dari lini kedua.
Hasilnya terlihat jelas: Indonesia mampu unggul dalam penguasaan bola melawan Irak. Kombinasi passing cepat dan pergerakan tanpa bola memberi tekanan konstan pada lini pertahanan lawan. Sayangnya, efektivitas di depan gawang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi skuad Garuda.
Peluang Datang, Gol Tak Kunjung Tiba
Meski tampil dominan di beberapa fase pertandingan, Timnas Indonesia gagal memanfaatkan peluang yang tercipta. Umpan-umpan silang dari sisi sayap serta sepakan jarak jauh belum mampu menembus rapatnya pertahanan Irak.
Striker muda Mauro Zijlstra sempat memiliki dua peluang emas, namun penyelesaiannya masih belum sempurna. Sementara Eliano Reijnders beberapa kali menusuk ke kotak penalti, namun kerap kehilangan dukungan di sekitarnya.
Patrick Kluivert terlihat cukup aktif di pinggir lapangan, memberikan instruksi dan dorongan moral kepada pemainnya. Meski hasil akhir belum berpihak, ia menilai performa tim kali ini mencerminkan perkembangan positif dari sisi taktik dan mentalitas.
Evaluasi dan Harapan ke Depan
Kekalahan dari Irak memang menutup peluang Indonesia menuju Piala Dunia 2026, tetapi pertandingan ini menjadi cermin potensi besar yang dimiliki skuad muda Garuda. Kluivert diperkirakan akan menjadikan laga ini sebagai acuan dalam mempersiapkan tim menuju Piala Asia 2027.
Dengan pendekatan modern dan keberanian melakukan rotasi, Patrick Kluivert mulai menanamkan identitas permainan baru bagi Timnas Indonesia — permainan yang mengandalkan kontrol bola, kecepatan transisi, dan keseimbangan antarlini.
Meski hasil belum sesuai harapan, pertandingan kontra Irak membuktikan bahwa Timnas Indonesia sedang berada di jalur yang tepat untuk berkembang menjadi tim yang lebih kompetitif di level Asia. (***)












