Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi momen penting untuk mengingatkan kita semua bahwa menjaga kelestarian bumi bukan sekadar tanggung jawab pemerintah atau aktivis lingkungan. Ini tanggung jawab kita bersama. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan bisa memberikan dampak besar terhadap masa depan bumi dan generasi yang akan datang.
Mengapa Hari Lingkungan Hidup Sedunia Penting?
Setiap tanggal 5 Juni, dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day yang diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Momen ini bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi ajakan nyata agar masyarakat global bergerak menjaga keseimbangan alam. Tema yang diangkat setiap tahun berbeda-beda, namun tujuannya tetap sama: menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga bumi dari kerusakan.
Menurut Dinas Lingkungan Hidup Kota Binjai (dlhkotabinjai.org), peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah pengingat bahwa perubahan besar berawal dari langkah kecil di sekitar kita. Mulai dari menanam pohon, mengurangi penggunaan plastik, hingga mengelola sampah rumah tangga dengan bijak.
Sejarah Singkat Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Hari Lingkungan Hidup Sedunia pertama kali dicanangkan pada tahun 1972, bertepatan dengan Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia di Stockholm, Swedia. Sejak saat itu, lebih dari 150 negara ikut berpartisipasi dalam kampanye global ini. Setiap tahun, satu negara ditunjuk menjadi tuan rumah untuk menjadi pusat kegiatan dunia.
Indonesia sendiri pernah menjadi tuan rumah peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada tahun 2012. Kala itu, isu utama yang diangkat adalah pentingnya pengelolaan hutan lestari dan perlindungan keanekaragaman hayati. Tema tersebut masih relevan hingga sekarang karena tantangan lingkungan terus meningkat.
Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025
Setiap tahun, PBB menetapkan tema yang mencerminkan tantangan lingkungan global terkini. Tahun 2025 mengusung tema “Restore Our Nature, Rebuild Our Future” atau dalam bahasa Indonesia berarti Pulihkan Alam Kita, Bangun Kembali Masa Depan Kita. Tema ini menekankan pentingnya restorasi ekosistem yang rusak akibat aktivitas manusia.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Binjai menegaskan bahwa restorasi ekosistem bukan sekadar menanam pohon, melainkan mengembalikan fungsi alam agar dapat menopang kehidupan dengan seimbang. “Kalau kita memperbaiki alam, alam juga akan memperbaiki kita,” ujarnya dalam wawancara di situs resmi dlhkotabinjai.org.
Dampak Kerusakan Lingkungan di Indonesia
Indonesia termasuk salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, namun juga menghadapi tantangan serius seperti deforestasi, pencemaran air, dan emisi karbon yang tinggi. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia kehilangan jutaan hektare hutan setiap tahun akibat pembalakan liar dan alih fungsi lahan.
Selain itu, polusi udara di kota besar seperti Jakarta dan Medan mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam laporan Greenpeace, kualitas udara di beberapa wilayah Indonesia sering melebihi batas aman yang direkomendasikan WHO. Kondisi ini memperparah perubahan iklim dan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.
Peran Dinas Lingkungan Hidup Kota Binjai
Di tingkat daerah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Binjai memainkan peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Melalui berbagai program edukasi dan aksi nyata, seperti penanaman pohon, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, serta kampanye green school, DLH berupaya menciptakan kota yang bersih dan hijau.
Salah satu program unggulannya adalah Bank Sampah Mandiri, di mana masyarakat dapat menukar sampah yang sudah dipilah dengan nilai ekonomi. Program ini bukan hanya membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Menjaga Lingkungan?
Menjaga lingkungan bukan hal yang sulit jika dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan:
1. Kurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai
Bawa tas belanja sendiri, gunakan botol minum yang bisa diisi ulang, dan hindari sedotan plastik. Langkah kecil ini bisa mengurangi jumlah limbah plastik di laut.
2. Menanam Pohon di Lingkungan Sekitar
Menanam pohon adalah investasi jangka panjang. Pohon menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, dan memberikan keteduhan.
3. Menghemat Energi dan Air
Matikan lampu dan alat elektronik saat tidak digunakan. Gunakan air secukupnya untuk kebutuhan sehari-hari. Menghemat energi berarti juga mengurangi emisi karbon.
4. Pilah dan Kelola Sampah dengan Benar
Pisahkan sampah organik dan anorganik. Gunakan kembali barang-barang yang masih bisa dimanfaatkan. Jika memungkinkan, lakukan daur ulang.
5. Dukung Produk Ramah Lingkungan
Pilih produk dengan label eco-friendly atau yang menggunakan bahan alami. Dengan begitu, kita ikut mendorong produsen untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Gerakan Hijau dari Generasi Muda
Generasi muda memegang peran penting dalam perubahan pola hidup berkelanjutan. Banyak komunitas anak muda di Indonesia yang bergerak dalam bidang lingkungan, seperti melakukan kampanye bersih pantai, membuat taman kota, hingga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gaya hidup hijau.
Menurut aktivis lingkungan muda dari Binjai, Salsabila Putri, kesadaran anak muda terhadap isu lingkungan semakin meningkat. “Kami ingin menunjukkan bahwa menjaga bumi itu keren. Dengan media sosial, kami bisa menyebarkan pesan positif lebih luas,” ujarnya.
Tantangan Menuju Masa Depan yang Berkelanjutan
Meskipun banyak langkah positif yang sudah dilakukan, tantangan tetap besar. Masih banyak masyarakat yang belum sadar pentingnya menjaga lingkungan. Kurangnya edukasi, infrastruktur daur ulang, serta lemahnya penegakan hukum terhadap pencemar lingkungan menjadi masalah utama.
Namun, optimisme tetap harus dijaga. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, bukan hal mustahil bagi Indonesia untuk menjadi negara yang ramah lingkungan.
Kesimpulan
Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukan hanya sekadar peringatan tahunan, melainkan panggilan untuk bertindak. Kita tidak perlu menunggu menjadi aktivis besar untuk memberi dampak. Cukup mulai dari rumah, dari diri sendiri, dan dari langkah kecil yang dilakukan setiap hari.
Sebagaimana yang selalu disampaikan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Binjai, menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan. Bumi adalah rumah kita bersama. Mari rawat, cintai, dan jaga bumi agar tetap menjadi tempat yang layak dihuni untuk generasi mendatang.






