Seringkali, aktivitas meremas payudara hanya dikaitkan dengan hubungan intim dan sensasi seksual. Padahal, berdasarkan berbagai penelitian medis dan saran dokter, ada beragam manfaat meremas payudara yang luar biasa untuk kesehatan fisik dan mental. Mulai dari deteksi dini penyakit hingga meningkatkan kualitas hidup pasangan. Mari kita bahas penjelasan logisnya secara lengkap.
Pertama, Mari Kita Luruskan Pemahaman tentang Payudara
Sebelum membahas lebih jauh tentang manfaat meremas payudara, penting untuk memahami anatomi dan fungsinya. Payudara, baik pada wanita maupun pria, adalah area yang kaya akan jaringan saraf. Pada wanita, fungsinya jelas terkait dengan menyusui. Pada pria, meski tidak berfungsi untuk laktasi, area puting ternyata memiliki ratusan ujung saraf yang membuatnya sangat sensitif terhadap rangsangan, termasuk sentuhan.
Inilah yang mendasari mengapa stimulasi pada area ini dapat memberikan dampak, baik dalam konteks hubungan suami istri maupun kesehatan mandiri. Memahami hal ini menghilangkan anggapan bahwa payudara hanya sekadar bagian tubuh pasif.
Manfaat Kesehatan yang Terbukti secara Medis
Ternyata, sentuhan dan pijatan lembut pada payudara memiliki efek yang lebih dari sekadar kenikmatan sesaat. Berikut adalah beberapa manfaat kesehatan yang didukung oleh penjelasan medis.
Sebagai Bagian dari Pemeriksaan Payudara Sendari (SADARI)
Ini adalah manfaat paling krusial. Dr. Sara Ester Triatmoko, SpBP-RE(K), seorang spesialis bedah plastik, bahkan menganjurkan para suami untuk rajin meremas payudara istrinya dengan tujuan ini. Dengan membiasakan meraba dan memahami kondisi normal payudara, Anda akan lebih mudah mendeteksi adanya perubahan, seperti benjolan yang tidak wajar. Sebuah penelitian dalam Journal of Women’s Health (2011) menyebutkan bahwa 25% perempuan berhasil mendeteksi kanker payudara melalui pemeriksaan mandiri.
Berikut adalah panduan singkat langkah-langkah SADARI yang bisa diintegrasikan dengan pijatan ringan:
| Langkah | Cara Melakukan | Tujuan |
|---|---|---|
| Pemeriksaan Visual | Berdiri di depan cermin, perhatikan bentuk, ukuran, dan kulit payudara dengan posisi lengan di sisi badan dan lengan terangkat. | Mendeteksi perubahan bentuk, kemerahan, atau cekungan pada kulit. |
| Perabaan Sambil Berdiri | Angkat satu lengan, gunakan ujung jari tangan lainnya untuk meraba area payudara hingga ketiak dengan gerakan memutar. | Merasakan adanya benjolan atau penebalan jaringan. |
| Perabaan Sambil Berbaring | Berbaring, letakkan bantal di bawah bahu, dan ulangi gerakan meraba seperti saat berdiri. | Posisi ini membuat jaringan payudara rata dan lebih mudah diraba. |
| Pemeriksaan Puting | Remas puting pelan-pelan dan amati apakah ada cairan yang keluar. | Mendeteksi keluarnya cairan abnormal dari puting. |
Meningkatkan Sirkulasi Darah dan Kesehatan Jaringan
Meremas atau memijat payudara dengan lembut dapat memperbaiki aliran darah di area tersebut. Sirkulasi darah yang lancar membawa lebih banyak oksigen dan nutrisi ke sel-sel, sehingga kesehatan jaringan payudara terjaga. Analoginya seperti saat kita melakukan pijat atau facial pada wajah yang membuat kulit tampak lebih glowing dan sehat.
Merangsang Sistem Limfatik
Di area sekitar payudara dan ketiak terdapat banyak kelenjar getah bening yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sistem limfatik bertugas membuang racun dan cairan limbah dari jaringan. Gerakan pijatan lembut dapat membantu merangsang drainase atau pengaliran sistem getah bening ini, sehingga mengurangi risiko penumpukan cairan (limfedema) dan membantu detoksifikasi alami tubuh.
Meredakan Ketegangan Otot
Otot-otot dada (pektoralis) yang letaknya di bawah payudara seringkali menegang akibat stres, postur tubuh yang buruk, atau aktivitas fisik. Memijat area ini dapat membantu meredakan ketegangan pada otot dada dan bahkan punggung, memberikan rasa relaksasi yang mendalam.
Dukungan untuk Ibu Menyusui
Bagi ibu menyusui, pijat payudara sebelum menyusui terbukti memberikan manfaat. Sebuah studi dalam Journal of Korean Academy of Nursing menunjukkan bahwa pijatan dapat membantu meningkatkan produksi ASI dan mengurangi nyeri payudara yang sering dialami di masa awal menyusui.
Manfaat dalam Hubungan Suami Istri dan Aspek Psikologis
Tidak dapat dimungkiri, sentuhan pada area payudara memiliki peran penting dalam keintiman. Manfaatnya ternyata melampaui sekadar sensasi seksual fisik semata.
Meningkatkan Ikatan dan Keintiman Emosional
Stimulasi pada payudara, terutama puting, memicu otak untuk melepaskan hormon oksitosin, yang dikenal sebagai “hormon cinta” atau “hormon peluk”. Hormon ini berperan besar dalam menumbuhkan perasaan nyaman, bahagia, dan memperkuat ikatan emosional antara pasangan. Inilah mengapa sentuhan di area ini selama hubungan intim dapat meningkatkan kedekatan batin, tidak hanya sekadar gairah fisik.
Sebagai Zona Erogen yang Penting
Baik untuk wanita maupun pria, payudara dan puting adalah zona erogen primer. Bagi banyak wanita, rangsangan di sini dapat langsung meningkatkan daya tarik wanita secara fisik dan memicu gairah seksual. Bagi pria, meski sering diabaikan, area puting juga mengandung banyak saraf dan bisa sangat sensitif, sehingga stimulasi yang tepat dapat memberikan kenikmatan tambahan dalam hubungan intim.
Meredakan Stres dan Kecemasan
Lepasnya hormon oksitosin akibat sentuhan lembut juga berdampak langsung pada tingkat stres. Hormon ini membantu menurunkan kadar kortisol (hormon stres) dan mengurangi pikiran negatif. Aktivitas seperti memijat atau meremas payudara dengan penuh kasih sayang dapat menjadi bentuk terapi relaksasi sederhana yang meredakan ketegangan dan kecemasan bagi kedua pasangan.
Membedakan Mitos dan Fakta
Di masyarakat, beredar beberapa kepercayaan yang perlu diluruskan dengan fakta medis.
- Mitos: Meremas Payudara Bisa Memperbesar Ukurannya Secara Permanen.
- Fakta: Ukuran payudara terutama ditentukan oleh faktor genetik, jumlah jaringan lemak, dan kelenjar. Meremas tidak menambah jaringan tersebut. Yang terjadi, rangsangan dapat menyebabkan pembuluh darah melebar sementara (vasokongesti), membuat payudara terlihat lebih “penuh” untuk beberapa saat, namun ini tidak permanen.
- Mitos: Payudara yang Sering Diremas Akan Kendur.
- Fakta: Penurunan payudara (ptosis) terutama disebabkan oleh gravitasi, penuaan, penurunan elastisitas kulit, dan fluktuasi berat badan. Pijatan lembut justru dapat membantu mengencangkan otot pendukung dan meningkatkan sirkulasi, yang mungkin memberi kesan lebih kencang. Namun, meremas secara kasar dan keras tentu berpotensi melukai jaringan.
- Mitos: Hanya Perempuan yang Menikmati Stimulasi Payudara.
- Fakta: Seperti telah dijelaskan, payudara pria juga sensitif. Banyak pria yang dapat merasakan rangsangan seksual dari stimulasi area ini, bahkan mencapai “nipple orgasm” atau nipplegasm. Jadi, ini bisa menjadi eksplorasi yang menyenangkan bagi kedua belah pihak.
Tips Melakukan dengan Aman dan Nyaman
Agar mendapatkan manfaat meremas payudara secara maksimal dan aman, perhatikan hal-hal berikut:
- Lakukan dengan Lembut dan Penuh Kasih Sayang: Gunakan sentuhan yang lembut, bukan mencubit atau meremas dengan keras. Tujuannya adalah stimulasi, bukan menyebabkan nyeri. Komunikasi dengan pasangan tentang tekanan yang nyaman sangat penting.
- Perhatikan Kebersihan: Pastikan tangan dan area kulit dalam keadaan bersih untuk mencegah iritasi.
- Gunakan Pelumas Alami (Opsional): Jika kulit terasa kering, menggunakan minyak alami (seperti minyak almond atau minyak zaitun) dapat membuat pijatan lebih lancar dan nyaman, sekaligus melembapkan kulit.
- Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil: Dalam konteks keintiman, nikmati momen kebersamaan dan kedekatan. Biarkan tubuh dan perasaan yang memandu.
- Jadikan Bagian dari Gaya Hidup Sehat: Manfaat terbesar untuk kesehatan (seperti SADARI) datang dari konsistensi. Lakukan pemeriksaan mandiri secara rutin, idealnya setiap bulan pada waktu yang sama (misal, 7-10 hari setelah haid).
Kesimpulannya, aktivitas meremas atau memijat payudara, jika dilakukan dengan cara yang tepat dan penuh kesadaran, adalah lebih dari sekadar gestur seksual. Ini adalah sebuah praktik sederhana yang menjembatani manfaat kesehatan fisik yang serius—seperti deteksi dini kanker—dengan kesehatan emosional dan keintiman hubungan suami istri. Dengan memahami penjelasan logis di baliknya, kita bisa menghargai dan mempraktikkan aktivitas ini secara lebih bermakna dan bermanfaat.










