Wakil Ketua PSSI, Zainudin Amali, menjelaskan secara terbuka mekanisme federasi dalam mencari pelatih baru Timnas Indonesia. Langkah ini ditempuh setelah muncul evaluasi besar atas penunjukan Patrick Kluivert, yang hanya bertahan delapan bulan sebelum berpisah dengan skuad Garuda.
Amali menegaskan bahwa PSSI kini kembali menggunakan pola seleksi seperti era Shin Tae-yong, yaitu metode wawancara terstruktur dan presentasi program kerja di hadapan Komite Eksekutif (Exco) PSSI.
Mengulang Prosedur Era Shin Tae-yong
Menurut Amali, proses seleksi pelatih idealnya melibatkan Exco dan dilakukan secara transparan. Ia mencontohkan proses pada 2019, ketika PSSI—dipimpin Mochamad Iriawan—mengundang dua kandidat, Shin Tae-yong dan Luis Milla, untuk memaparkan visi serta program mereka.
Proses wawancara dilakukan di dua negara berbeda. Shin Tae-yong mempresentasikan programnya di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 19 November 2019. Sementara Luis Milla melakukan presentasi di Manila, Filipina, pada 29 November 2019.
Kala itu, hadir Ketua PSSI Iwan Bule, Wakil Ketua Iwan Budianto, Sekjen Ratu Tisha Destria, serta anggota Exco Endri Erawan dan Hasani Abdulgani. Seluruh Exco kemudian melakukan voting dan memutuskan Shin sebagai pelatih Timnas Indonesia.
Belajar dari Kasus Patrick Kluivert
Amali tidak menampik bahwa proses rekrutmen Patrick Kluivert jauh berbeda dibanding era Shin Tae-yong. Pada Januari 2025, PSSI menunjuk Kluivert sebagai pelatih menggantikan Shin setelah melakukan wawancara dadakan pada Hari Raya Natal 25 Desember 2024.
Kala itu, 15 nama sempat masuk radar Erick Thohir sebelum dipersempit menjadi tiga kandidat. Namun hanya satu pelatih yang hadir dalam interview, yakni Kluivert, dan akhirnya dipilih. Kurangnya proses evaluasi menyeluruh dinilai berkontribusi pada kegagalan proyek jangka pendek tersebut.
Sumardji Diutus ke Eropa
Untuk menghindari kesalahan serupa, PSSI kini menerapkan mekanisme lebih sistematis. Amali mengungkapkan bahwa Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, akan terbang ke Eropa guna melakukan wawancara langsung dengan lima kandidat pelatih Timnas Indonesia.
Ia kemungkinan akan didampingi Direktur Teknik PSSI, Alexander Zwiers.
“Sekarang ini Pak Mardji yang ditugaskan karena adalah Ketua BTN dan beliau yang diminta untuk bertemu dan mewawancarai,” ujar Amali seperti dikutip dari YouTube Kompas TV Jawa Barat.
Amali menegaskan bahwa tugas Sumardji hanya melakukan wawancara dan mengumpulkan data, bukan memutuskan.
“Yang penting Pak Mardji datang dulu ke sana. Setelah itu Pak Mardji harus melaporkan kepada Exco,” tambahnya.
Keputusan Ada di Exco, Sesuai Statuta PSSI
Dalam penjelasannya, Amali menekankan bahwa kewenangan memilih pelatih sepenuhnya berada di tangan Exco. Hal ini sudah diatur dalam Statuta PSSI 2025, tepatnya Pasal 43, yang menyatakan bahwa Exco berwenang menunjuk pelatih kepala atas rekomendasi dari Departemen Teknik.
“Exco punya hak untuk mewawancarai. Ini hal yang sudah biasa saat menentukan pelatih. Pada waktu memilih Shin Tae-yong, itu diputuskan Exco dalam rapat Exco. Bukan Pak Iwan Bule, bukan yang lain,” ujar mantan Menpora RI itu.
Keputusan kolektif dianggap penting agar tidak ada pihak yang menanggung beban sendiri jika proyek pelatih baru tidak berjalan sesuai harapan.
“Kalau ada apa-apa, itu menjadi tanggung jawab bersama. Itu organisasi kolektif kolegial,” jelas Amali.
Menanti Arah Baru Timnas Indonesia
Dengan lima kandidat sudah di tangan dan proses wawancara akan segera berlangsung, keputusan akhir berada pada Exco PSSI. Publik sepak bola nasional kini menunggu arah baru Timnas Indonesia pasca era Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert.
Federasi memastikan bahwa proses kali ini akan berlangsung lebih tertutup namun lebih terukur, demi menjaga kualitas dan visi jangka panjang sepak bola Indonesia. (***)












