Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

Perbedaan Sampah Organik & Anorganik Serta Cara Pengelolaannya

×

Perbedaan Sampah Organik & Anorganik Serta Cara Pengelolaannya

Sebarkan artikel ini
Perbedaan Sampah Organik & Anorganik Serta Cara Pengelolaannya
Baca Berita Terupdate di Saluran Whatsapp Gratis

Kamu pasti sering mendengar istilah sampah organik dan sampah anorganik, kan? Dua jenis sampah ini memang terlihat sepele, tapi sebenarnya punya peran besar dalam menjaga lingkungan hidup. Kalau kita bisa mengelola keduanya dengan benar, bukan cuma bumi yang lebih bersih, tapi juga bisa membuka peluang ekonomi baru lewat daur ulang dan pengomposan.

Nah, artikel ini akan mengulas tuntas perbedaan antara sampah organik dan anorganik, beserta cara pengelolaan terbaiknya. Informasi ini disusun berdasarkan panduan dari Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat (dlhjawabarat.id) dan berbagai sumber terpercaya lainnya.

Iklan

Apa Itu Sampah Organik?

Sampah organik adalah limbah yang berasal dari makhluk hidup, baik tumbuhan maupun hewan. Jenis sampah ini bisa terurai secara alami oleh mikroorganisme, sehingga tergolong ramah lingkungan. Contohnya seperti sisa makanan, daun kering, kulit buah, sayuran busuk, atau sisa daging.

Menurut DLH Jawa Barat, sampah organik bisa terurai dalam waktu sekitar 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembapan. Karena cepat terurai, jenis sampah ini ideal dijadikan bahan kompos untuk menyuburkan tanah.

Ciri-Ciri Sampah Organik

Agar kamu lebih mudah mengenalinya, berikut beberapa ciri khas sampah organik:

  • Berasal dari bahan alami (tumbuhan, hewan, atau hasil olahannya)
  • Mudah membusuk atau terurai
  • Tidak berbahaya bagi lingkungan
  • Dapat dimanfaatkan kembali, misalnya untuk pupuk atau biogas

Contoh paling sederhana: kulit pisang yang kamu buang setelah makan. Kalau dikumpulkan dan diolah, bisa jadi pupuk kompos alami yang bagus untuk tanaman.

Apa Itu Sampah Anorganik?

Berbeda dengan organik, sampah anorganik berasal dari bahan non-hayati, seperti plastik, logam, kaca, atau bahan kimia. Jenis ini tidak mudah terurai dan bisa bertahan di alam hingga ratusan tahun. Karena itulah, pengelolaan sampah anorganik membutuhkan perhatian lebih serius.

Baca Juga:  Dinas Lingkungan Hidup Sulawesi Utara Tekankan Warga untuk Bersama Jaga Lingkungan Sehat

Misalnya, botol plastik air mineral yang sering kita buang. Butuh waktu sekitar 450 tahun agar plastik tersebut terurai sepenuhnya di tanah. Bayangkan kalau jutaan botol dibuang sembarangan, pasti menumpuk dan mencemari lingkungan hidup.

Ciri-Ciri Sampah Anorganik

Berikut ciri-ciri umum dari sampah anorganik:

  • Tidak mudah membusuk
  • Sulit terurai oleh mikroorganisme
  • Biasanya berasal dari bahan buatan manusia
  • Dapat didaur ulang menjadi produk baru

Beberapa contoh sampah anorganik antara lain plastik, kaleng minuman, kaca, karet, logam, dan styrofoam.

Perbedaan Sampah Organik dan Anorganik

Supaya lebih jelas, yuk lihat perbedaan keduanya dalam tabel berikut:

Aspek Sampah Organik Sampah Anorganik
Asal Dari makhluk hidup Dari bahan buatan manusia
Kemampuan terurai Cepat terurai Sulit terurai
Dampak terhadap lingkungan Ramah lingkungan Berpotensi mencemari
Contoh Sisa makanan, daun, kulit buah Plastik, kaleng, kaca
Pengelolaan Kompos, biogas Daur ulang, upcycle

Menurut saya, memahami perbedaan ini penting banget karena dari sinilah kita bisa menentukan cara pengelolaan yang tepat. Salah membuang jenis sampah bisa membuat proses daur ulang terganggu, bahkan memperparah pencemaran.

Mengapa Pengelolaan Sampah Itu Penting?

Setiap hari, masyarakat Indonesia menghasilkan sekitar 175 ribu ton sampah, dan sebagian besar belum terkelola dengan baik. Berdasarkan data dari DLH Jawa Barat, sekitar 60% di antaranya adalah sampah organik, sementara sisanya anorganik.

Kalau sampah-sampah itu tidak dipilah, akan menumpuk di TPA dan menimbulkan bau tidak sedap, penyakit, bahkan mencemari tanah serta air. Dengan pengelolaan sampah yang benar, sampah bisa berubah jadi sumber daya baru. Misalnya:

  • Sampah organik → jadi pupuk kompos
  • Sampah anorganik → jadi produk daur ulang bernilai ekonomi
Baca Juga:  Tips Kelola Sampah Non-Organik untuk Lingkungan Lebih Sehat

Cara Pengelolaan Sampah Organik

Pengelolaan sampah organik bisa dilakukan dengan sederhana di rumah. Berikut beberapa langkah yang bisa kamu coba:

1. Pisahkan Sampah dari Awal

Selalu pisahkan antara sampah organik dan anorganik di tempat sampah berbeda. Ini langkah dasar, tapi sering diabaikan.

2. Gunakan Komposter

Kamu bisa memakai komposter sederhana dari ember bekas. Masukkan sisa makanan, daun, dan kulit buah ke dalamnya. Setelah beberapa minggu, sampah akan berubah jadi pupuk alami.

3. Buat Pupuk Cair

Selain kompos padat, sampah organik juga bisa diolah menjadi pupuk cair. Caranya mudah: fermentasi sisa dapur dengan gula merah dan air selama beberapa minggu.

4. Gunakan untuk Pakan Ternak

Beberapa jenis sisa makanan seperti sayur atau buah bisa dijadikan pakan ternak, terutama untuk kambing atau ayam.

Dengan cara ini, kamu bukan hanya membantu mengurangi timbunan sampah, tapi juga ikut menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.

Cara Pengelolaan Sampah Anorganik

Kalau sampah organik bisa diolah di rumah, pengelolaan sampah anorganik biasanya butuh proses lebih panjang. Tapi tetap bisa kamu lakukan kalau tahu caranya.

1. Pisahkan Sesuai Jenis Bahan

Plastik, kaca, logam, dan karet sebaiknya disimpan terpisah. Dengan begitu, proses daur ulang jadi lebih mudah.

2. Bersihkan Sebelum Daur Ulang

Pastikan sampah seperti botol plastik dicuci dulu sebelum dikumpulkan. Ini penting agar tidak menimbulkan bau atau jamur.

3. Gunakan Bank Sampah

Sekarang sudah banyak bank sampah di berbagai kota. Kamu bisa menukar sampah anorganik dengan uang atau poin. Program ini juga didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat untuk mendorong ekonomi sirkular.

Baca Juga:  Peran Penting DLH Kab. Yahukimo Dalam Menjaga Lingkungan Sehat

4. Daur Ulang Kreatif

Kalau kamu suka kerajinan, coba daur ulang sampah jadi produk baru: tas dari bungkus kopi, pot bunga dari botol bekas, atau dekorasi rumah dari kaleng minuman.

Dampak Buruk Jika Sampah Tidak Dikelola

Kalau kita masih cuek terhadap sampah, akibatnya bisa serius. Contohnya:

  • Banjir karena saluran air tersumbat plastik.
  • Pencemaran air tanah akibat limbah anorganik beracun.
  • Pemanasan global karena gas metana dari sampah organik membusuk.

Menurut para ahli lingkungan, pengelolaan sampah bukan hanya soal kebersihan, tapi juga tentang keberlanjutan ekosistem. Kalau kita semua mulai dari rumah sendiri, hasilnya bisa luar biasa untuk bumi.

Peran Pemerintah dan Masyarakat

DLH Jawa Barat terus mengkampanyekan gerakan Pilah Sampah dari Rumah. Mereka juga menyediakan pelatihan dan fasilitas bank sampah di berbagai daerah.

Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kesadaran masyarakat. Jadi, yuk mulai dari hal kecil:

  • Gunakan ulang kantong belanja.
  • Kurangi penggunaan plastik sekali pakai.
  • Edukasi keluarga tentang jenis-jenis sampah.

Kesimpulan

Perbedaan sampah organik dan sampah anorganik bukan cuma soal jenis bahan, tapi juga cara kita memperlakukan lingkungan hidup. Sampah organik bisa diolah jadi pupuk atau biogas, sementara sampah anorganik bisa didaur ulang menjadi produk baru.

Kuncinya ada di kesadaran. Kalau setiap orang mau memilah dan mengelola sampah dengan benar, bumi kita akan jauh lebih bersih dan sehat. Seperti kata DLH Jawa Barat, “Sampahmu adalah tanggung jawabmu. Kelola dari rumah, demi masa depan bumi yang lebih hijau.”

Sumber: https://dlhjawabarat.id/

Berlangganan berita gratis di Whatsapp Channel
Dunia Sudah Canggih! Kreatiflah Sedikit...