Kamu mungkin pernah mendengar istilah childish di percakapan sehari-hari, terutama saat seseorang dibilang “jangan childish deh!”. Tapi, sebenarnya childish artinya apa sih? Apakah itu selalu buruk? Atau justru bisa jadi tanda seseorang sedang menunjukkan sisi emosionalnya secara jujur?
Dalam artikel ini, kita akan bahas secara lengkap arti childish, ciri-cirinya, penyebabnya, serta cara menghadapi orang yang bersikap kekanak-kanakan. Yuk, kita kupas tuntas bersama!
Apa Itu Childish Artinya?
Secara sederhana, childish artinya bersikap seperti anak kecil atau kekanak-kanakan. Istilah ini berasal dari bahasa Inggris child, yang berarti anak. Jadi, kalau seseorang disebut childish, maksudnya ia menunjukkan perilaku yang tidak dewasa sesuai usianya.
Namun, penting untuk dicatat: childish tidak selalu berarti buruk. Kadang, seseorang bisa bersikap childish dalam konteks yang positif, misalnya saat ia menunjukkan keceriaan, spontanitas, atau rasa ingin tahu tinggi seperti anak-anak.
Menurut psikolog klinis Dr. Caroline Leaf, perilaku kekanak-kanakan bisa muncul karena individu belum belajar cara mengelola emosi dengan baik. Tapi, bukan berarti orang seperti ini tidak bisa berubah. Justru, memahami akar penyebabnya adalah langkah pertama untuk memperbaiki diri.
Ciri-ciri Orang Childish
Setiap orang punya sisi kekanak-kanakan. Tapi kalau kamu ingin tahu apakah seseorang benar-benar childish, berikut tanda-tandanya.
1. Sulit Mengontrol Emosi
Orang yang childish biasanya mudah tersinggung, marah, atau kecewa. Hal kecil bisa membuatnya bereaksi berlebihan.
2. Ingin Selalu Diperhatikan
Mereka haus perhatian. Kalau merasa diabaikan, bisa langsung ngambek atau membuat drama kecil supaya dilirik.
3. Tidak Mau Disalahkan
Alih-alih introspeksi, orang childish sering menyalahkan orang lain atas kesalahan mereka sendiri.
4. Impulsif
Mereka sering bertindak tanpa berpikir panjang. Misalnya, langsung memutuskan hubungan karena emosi sesaat.
5. Tidak Bisa Menerima Kritik
Saat diberi masukan, mereka cenderung tersinggung dan merasa diserang, bukan belajar dari kritik tersebut.
6. Ego Tinggi
Mereka ingin selalu benar dan sulit mengakui kesalahan. Kalau kalah argumen, bisa-bisa malah ngambek atau marah.
Penyebab Seseorang Bersikap Kekanak-kanakan
Sikap childish bisa muncul karena banyak hal. Menurut psikolog perkembangan Dr. Laura Markham, ada tiga penyebab utama kenapa seseorang menunjukkan perilaku kekanak-kanakan:
1. Pola Asuh di Masa Kecil
Jika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang selalu memanjakan, ia mungkin sulit belajar tanggung jawab dan kemandirian.
2. Kurangnya Kematangan Emosional
Beberapa orang tidak terbiasa menghadapi emosi negatif. Akibatnya, mereka mengekspresikannya dengan cara yang tidak dewasa.
3. Trauma atau Pengalaman Buruk
Kadang, perilaku childish menjadi mekanisme pertahanan diri. Misalnya, seseorang bersikap kekanak-kanakan untuk menghindari konflik atau rasa sakit emosional.
Cara Menghadapi Orang yang Childish
Kalau kamu punya teman, pasangan, atau rekan kerja yang sering bersikap childish, jangan buru-buru menjauh. Ada beberapa cara bijak untuk menghadapinya.
1. Tetap Tenang dan Tidak Terprovokasi
Jangan ikut emosi. Orang childish justru akan semakin reaktif jika kamu membalas dengan nada tinggi.
2. Tunjukkan Empati
Coba pahami dulu kenapa mereka bersikap seperti itu. Mungkin ada luka batin atau stres yang belum terselesaikan.
3. Beri Contoh Sikap Dewasa
Tindakan lebih kuat dari kata-kata. Tunjukkan bagaimana bersikap bijak tanpa harus menggurui.
4. Komunikasikan dengan Jujur
Gunakan bahasa yang lembut namun tegas. Jelaskan bagaimana sikap mereka memengaruhi hubungan kalian.
5. Tetapkan Batasan yang Sehat
Jika perilaku mereka sudah terlalu menguras energi, kamu berhak menjaga jarak. Batasan bukan berarti menjauh, tapi melindungi diri.
Kapan Sikap Childish Masih Diperbolehkan?
Sebenarnya, menjadi sedikit childish tidak selalu salah. Dalam psikologi, ada istilah inner child — sisi kekanak-kanakan dalam diri yang menyimpan keceriaan, kreativitas, dan rasa ingin tahu.
Menurut John Bradshaw, penulis buku Healing the Shame That Binds You, menghidupkan sisi anak dalam diri justru penting untuk kesehatan mental. Tapi, tentu saja harus dalam konteks yang tepat.
Contohnya:
- Tertawa bebas saat menonton film lucu.
- Bermain bersama anak-anak tanpa malu.
- Mengekspresikan diri dengan cara spontan.
Itu semua adalah bentuk childish yang sehat. Jadi, jangan buru-buru menilai negatif.
Cara Mengatasi Sifat Childish dalam Diri Sendiri
Kalau kamu merasa punya sisi childish yang mengganggu, jangan khawatir. Berikut beberapa langkah yang bisa kamu coba:
1. Sadari Pola Perilaku
Langkah pertama adalah mengenali kapan kamu mulai bersikap kekanak-kanakan. Apakah saat marah, kecewa, atau merasa tidak dihargai?
2. Belajar Mengelola Emosi
Latih diri untuk merespons, bukan bereaksi. Ambil jeda sebelum menanggapi sesuatu yang membuatmu kesal.
3. Kembangkan Rasa Tanggung Jawab
Mulailah dari hal kecil, seperti menepati janji atau menyelesaikan tugas tepat waktu. Ini akan menumbuhkan kedewasaan.
4. Terima Kritik Sebagai Proses Belajar
Kritik bukan musuh. Itu cermin yang membantu kamu melihat hal-hal yang perlu diperbaiki.
5. Konsultasi dengan Profesional
Kalau sulit mengendalikan emosi, jangan ragu konsultasi dengan psikolog. Mereka bisa membantu mengurai akar masalahnya.
Opini Penulis
Sebagai penulis yang juga mempelajari perilaku manusia, saya percaya setiap orang punya sisi childish dalam dirinya. Namun, kunci kedewasaan bukan menghapus sisi itu, melainkan mengendalikannya. Karena kadang, sedikit childish bisa membuat hidup lebih berwarna — asal tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain.
Kesimpulan
Jadi, childish artinya bersikap kekanak-kanakan, tapi maknanya tidak selalu negatif. Dalam dosis yang tepat, sifat ini bisa menjadi bagian alami dari diri manusia. Namun, jika berlebihan, bisa mengganggu hubungan sosial dan profesional.
Kuncinya adalah seimbang — tetap menjaga sisi polos seperti anak-anak, tapi juga belajar bertanggung jawab dan bijak dalam bertindak.








