OpenAI membuka lowongan kerja untuk posisi Head of Preparedness atau Kepala Kesiapsiagaan, sebuah peran strategis yang dirancang untuk mengantisipasi berbagai potensi risiko serius dari perkembangan kecerdasan buatan (AI). Posisi ini diumumkan langsung oleh CEO OpenAI, Sam Altman, di tengah meningkatnya sorotan publik dan gelombang gugatan hukum terhadap perusahaan teknologi tersebut.
Dalam unggahannya di platform X, Altman mengakui bahwa peningkatan kemampuan model AI yang sangat cepat membawa “beberapa tantangan nyata.” Ia secara khusus menyinggung potensi dampak terhadap kesehatan mental masyarakat serta ancaman senjata keamanan siber berbasis AI yang kian canggih.
Berdasarkan keterangan resmi lowongan pekerjaan tersebut, Kepala Kesiapsiagaan akan bertugas melacak dan mempersiapkan kemampuan AI mutakhir yang berpotensi menciptakan risiko baru berupa bahaya serius. Posisi ini juga akan menjadi pemimpin utama dalam membangun dan mengoordinasikan evaluasi kemampuan, pemodelan ancaman, serta langkah mitigasi yang membentuk alur kerja keselamatan AI yang ketat, terukur, dan dapat diskalakan secara operasional.
Kandidat terpilih nantinya akan bertanggung jawab menjalankan “kerangka kesiapan” OpenAI, mengamankan model AI sebelum peluncuran kemampuan biologis, serta menetapkan batasan bagi sistem yang memiliki kemampuan belajar secara mandiri. Peran ini dinilai krusial seiring ekspansi OpenAI ke teknologi dengan tingkat risiko yang lebih tinggi.
Pembukaan posisi tersebut tidak terlepas dari meningkatnya tekanan hukum terhadap OpenAI. Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan di balik ChatGPT itu menghadapi sejumlah gugatan di Amerika Serikat yang menuding chatbot berbasis AI tersebut berkontribusi terhadap kematian dan gangguan mental serius pada sejumlah pengguna.
Salah satu kasus yang disorot adalah kematian Zane Shamblin (23), lulusan program magister Texas A&M University. Dalam dokumen gugatan yang dilaporkan CNN, terungkap bahwa menjelang bunuh diri pada 25 Juli 2024, Zane justru berinteraksi dengan ChatGPT. Transkrip percakapan menunjukkan respons chatbot yang dinilai memvalidasi kondisi psikologisnya di saat kritis.
Kasus serupa juga menimpa Adam Raine (16) asal California. Orang tuanya menggugat OpenAI dan CEO Sam Altman pada Agustus 2024. Dalam kesaksian di hadapan Kongres Amerika Serikat, ayah Adam, Matt Raine, menyatakan bahwa ChatGPT perlahan mengambil alih peran keluarga dalam kehidupan anaknya. Ia menyebut chatbot tersebut bertransformasi dari alat bantu belajar menjadi tempat curhat, hingga akhirnya bertindak layaknya “pelatih bunuh diri.”
Menurut dokumen gugatan, ChatGPT dituduh memberikan panduan rinci terkait metode bunuh diri dan bahkan menawarkan bantuan menyusun surat perpisahan. Tuduhan tersebut menjadi salah satu poin utama dalam proses hukum yang masih berjalan.
Selain Zane dan Adam, gugatan juga mencantumkan nama Amaurie Lacey (17) dari Georgia, Joshua Enneking (26) dari Florida, serta Joe Ceccanti (48) dari Oregon, yang seluruhnya meninggal dunia setelah intens berinteraksi dengan chatbot tersebut. Sejumlah laporan lain juga menyoroti kasus delusi dan gangguan mental berat yang dialami pengguna seperti Hannah Madden (32), Jacob Irwin (30), dan Allan Brooks (48).
Data internal OpenAI yang diungkap dalam rilis ChatGPT pada akhir Oktober turut menambah kekhawatiran. Perusahaan menyebut sekitar 0,15 persen penggunanya terlibat dalam percakapan yang mengindikasikan perencanaan bunuh diri. Dengan jumlah pengguna aktif mingguan mencapai sekitar 800 juta orang, angka tersebut setara dengan lebih dari satu juta pengguna yang membahas keinginan mengakhiri hidup melalui platform AI tersebut.
Di tengah situasi ini, pembentukan posisi Kepala Kesiapsiagaan dinilai sebagai upaya OpenAI untuk memperkuat tata kelola keselamatan dan merespons kekhawatiran publik terhadap dampak sosial dan psikologis kecerdasan buatan yang semakin luas. (***)












