Sejumlah peristiwa bencana alam yang melanda wilayah Sumatera dalam beberapa pekan terakhir mendapat perhatian serius dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ciamis. Melihat skala kerusakan dan dampaknya terhadap masyarakat, DLH Ciamis menilai bahwa kejadian tersebut harus menjadi pengingat penting bagi seluruh daerah, termasuk Ciamis, untuk memperkuat komitmen menjaga lingkungan.
Kepala DLH Ciamis, Drs. H. Dedi Saeful Rahmat, saat ditemui usai menghadiri rapat koordinasi penanggulangan bencana di kantor DLH Ciamis, Senin (2/12), menyampaikan bahwa bencana yang terjadi di Sumatera, seperti banjir bandang dan longsor, tidak lepas dari persoalan kerusakan lingkungan.
“Kami mengajak seluruh warga Kabupaten Ciamis untuk menjadikan bencana di Sumatera sebagai pelajaran besar. Kerusakan lingkungan tidak mengenal batas wilayah, dan dampaknya pada akhirnya akan dirasakan bersama. Karena itu, menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita semua,” ujar Dedi.
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dirilis pada 30 November 2025, beberapa wilayah di Sumatera mengalami banjir bandang dan tanah longsor setelah curah hujan ekstrem melanda kawasan barat Indonesia. BNPB mencatat lebih dari 2.300 warga mengungsi dan puluhan rumah rusak berat akibat bencana tersebut.
DLH Ciamis menilai kondisi itu terjadi karena kombinasi faktor perubahan iklim dan penurunan kualitas lingkungan yang dipicu aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan tanpa kontrol dan minimnya ruang terbuka hijau.
Dedi menegaskan bahwa DLH Ciamis telah memperkuat program pengawasan lingkungan, termasuk pemantauan daerah rawan longsor, kampanye pengurangan sampah plastik, serta edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Selain itu, DLH juga berkoordinasi dengan BPBD Ciamis untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana lokal. Upaya mitigasi ini dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa terjadi di Kabupaten Ciamis.
“Kita harus mulai dari hal sederhana: tidak membuang sampah ke sungai, menanam pohon di pekarangan, serta menjaga daerah resapan air. Pemerintah tidak akan mampu bekerja sendirian tanpa dukungan penuh masyarakat,” tegasnya.
Pengamat lingkungan dari Universitas Galuh Ciamis, Dr. Yuni Setiawati, menambahkan bahwa peristiwa bencana di Sumatera merupakan cerminan nyata betapa pentingnya peran pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Kita bisa melihat bahwa daerah dengan tingkat kerusakan lingkungan tinggi akan lebih rentan terhadap bencana. Jika Ciamis ingin tetap aman, maka pelestarian lingkungan harus menjadi prioritas utama,” jelas Yuni.
DLH Ciamis berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat setelah melihat dampak besar dari bencana yang terjadi di Sumatera. Pemerintah daerah pun menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan program lingkungan berkelanjutan demi melindungi generasi mendatang.
Dengan peran aktif Dinas Lingkungan Hidup, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, Ciamis diharapkan dapat menjadi daerah yang lebih tangguh menghadapi ancaman bencana dan tetap terjaga kelestarian lingkungannya. (***)












