Jepang tengah menghadapi krisis produksi matcha, teh hijau bubuk yang selama ini menjadi salah satu ikon kuliner Negeri Sakura. Kelangkaan ini kini tak hanya berdampak di dalam negeri, tetapi juga mulai terasa di berbagai negara, termasuk Singapura, yang merupakan salah satu pasar terbesar untuk produk olahan matcha di Asia Tenggara.
Matcha dikenal luas sebagai bahan baku dalam beragam produk makanan dan minuman, mulai dari teh, latte, hingga dessert modern. Namun proses produksinya yang memakan waktu lama, serta peningkatan permintaan global dalam beberapa tahun terakhir, mulai menekan ketersediaan stok secara signifikan.
Permintaan Meningkat, Produksi Terbatas
Dikutip dari laman Mothership pada Minggu (13/7/2025), sejumlah gerai minuman dan toko khusus matcha di Singapura mulai menghentikan penjualan produk berbasis matcha secara sementara akibat tidak tercukupinya pasokan dari Jepang.
Salah satu yang terdampak adalah Ippodo Tea, merek teh Jepang ternama yang memiliki cabang internasional.
“Kami sangat menyesal mengabarkan, kami berhenti menjual beberapa produk. Sementara produk lainnya masih dibeli dengan peraturan satu pembeli hanya bisa membeli satu minuman matcha saja,” demikian pengumuman resmi dari Ippodo Tea.
Langkah ini diambil untuk mengantisipasi kelangkaan produk sekaligus memastikan distribusi yang lebih merata kepada pelanggan.
Harga Matcha Melonjak di Pasar Ritel
Tak hanya penurunan pasokan, harga matcha di tingkat ritel juga mulai melonjak. Di sejumlah supermarket di Singapura, produk matcha impor dari Jepang mengalami kenaikan harga antara 10 hingga 15 persen dibandingkan harga normal.
Kenaikan harga ini tak terhindarkan mengingat terbatasnya pasokan dari Jepang, sementara permintaan konsumen di berbagai negara terus meningkat—terutama dari kalangan pecinta gaya hidup sehat dan produk alami.
Produksi Matcha yang Rumit
Krisis ini diperburuk oleh kenyataan bahwa produksi matcha bukanlah proses yang sederhana. Matcha berasal dari daun teh hijau (tencha) yang ditanam di bawah naungan selama beberapa minggu sebelum panen untuk meningkatkan kadar klorofil dan rasa umami.
Setelah dipanen, daun harus dikeringkan, digiling halus dengan batu granit, dan disimpan dalam kondisi tertentu untuk menjaga kualitas. Proses yang ketat ini membuat kapasitas produksi matcha Jepang tidak mudah ditingkatkan secara instan.
Efek Global
Krisis matcha ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri kuliner global, terutama di sektor kafe dan restoran yang menawarkan menu berbasis matcha sebagai produk unggulan.
Beberapa gerai kopi dan dessert bar di Hong Kong, Korea Selatan, bahkan hingga Amerika Serikat mulai mencari alternatif atau melakukan reformulasi menu untuk menghindari ketergantungan berlebih terhadap matcha asli Jepang.
Potensi Strategi Solusi
Pakar agrikultur Jepang saat ini tengah mencari jalan keluar, salah satunya dengan mendorong ekspansi kebun teh matcha di wilayah-wilayah yang belum tergarap maksimal. Namun upaya ini tentu membutuhkan waktu, mengingat standar kualitas matcha Jepang sangat tinggi.
Sementara itu, sejumlah pelaku industri juga mulai melirik produksi matcha di luar Jepang, seperti di Taiwan, China, dan bahkan Australia. Namun, kualitas dan karakter rasa dari matcha non-Jepang masih diperdebatkan dan belum sepenuhnya diterima oleh konsumen yang mengutamakan keaslian.
Krisis matcha yang tengah berlangsung menjadi pengingat akan rentannya rantai pasok global terhadap bahan-bahan alami premium, terutama yang berasal dari proses produksi tradisional. Meski masih menjadi primadona dalam dunia kuliner, ketersediaan matcha kini menjadi tantangan baru yang perlu dijawab dengan inovasi dan kolaborasi lintas negara.
Bagi para pencinta matcha, saat ini mungkin adalah waktu yang tepat untuk menikmati secangkir matcha terakhir—sebelum harus menunggu pasokan kembali stabil. (***)






