Pertumbuhan lapangan kerja di Amerika Serikat tercatat melemah tajam pada Agustus 2025. Data terbaru menunjukkan tingkat pengangguran naik menjadi 4,3 persen, mendekati level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir. Kondisi ini menambah tekanan terhadap Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan mendatang.
Menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS), lapangan kerja nonpertanian hanya bertambah 22.000 pada bulan lalu. Angka tersebut turun signifikan dibandingkan dengan 79.000 pada Juli (setelah revisi). Padahal, para ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan penambahan mencapai 75.000 lapangan kerja.
Pasar Tenaga Kerja Melemah Sejak April
Sejak April, tren perekrutan pekerja menunjukkan pelemahan. Sejumlah ekonom menilai kondisi ini dipengaruhi kebijakan Presiden Donald Trump, mulai dari tarif terhadap impor, kebijakan imigrasi yang lebih ketat, hingga pemangkasan pekerja publik. Christopher Rupkey, kepala ekonom di FWDBONDS, menilai perekonomian berada di ambang resesi.
“Perusahaan tampaknya menahan diri untuk merekrut, hal ini jelas terkait dengan agenda ekonomi Washington. Satu-satunya solusi adalah pemangkasan suku bunga oleh The Fed,” ujar Rupkey, dikutip Sabtu (6/9).
Data BLS juga menunjukkan adanya revisi negatif, dengan penurunan 13.000 lapangan kerja pada Juni, pertama kali sejak Desember 2020. Dalam tiga bulan terakhir, pertumbuhan lapangan kerja hanya rata-rata 29.000 per bulan, jauh di bawah 82.000 pada periode yang sama tahun lalu.
Sektor Pekerjaan dan Dampak Tarif
Pertumbuhan tenaga kerja pada Agustus sebagian besar datang dari sektor kesehatan dengan tambahan 31.000 posisi, namun masih lebih rendah dari rata-rata 42.000 per bulan selama setahun terakhir. Sektor bantuan sosial menambah 16.000 pekerjaan. Sebaliknya, sektor pemerintah federal kehilangan 15.000 posisi, dengan total penurunan mencapai 97.000 sejak Januari akibat pemangkasan anggaran.
Sektor manufaktur mengalami kontraksi pekerjaan selama empat bulan berturut-turut. Penurunan juga terlihat di perdagangan grosir, informasi, keuangan, konstruksi, serta layanan profesional dan bisnis. Data sensus bahkan mengindikasikan potensi revisi turun hingga 800.000 lapangan kerja.
Upah Naik, Namun Jam Kerja Menurun
Di tengah pelemahan pasar tenaga kerja, pertumbuhan upah masih menjadi titik terang. Rata-rata upah per jam naik 0,3 persen pada Agustus, sama seperti bulan sebelumnya. Secara tahunan, upah meningkat 3,7 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan 3,9 persen pada Juli. Namun, berkurangnya rata-rata jam kerja menimbulkan kekhawatiran atas prospek pertumbuhan ekonomi ke depan.
Pasar Keuangan Antisipasi Pemangkasan Suku Bunga
Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada rapat kebijakan 16-17 September mendatang. Pasar juga memproyeksikan dua kali pemangkasan tambahan hingga akhir tahun. Saat ini, suku bunga acuan The Fed berada pada kisaran 4,25 persen hingga 4,50 persen sejak Desember lalu.
Dampak kondisi ini sudah terasa di pasar keuangan. Indeks saham Wall Street terkoreksi, dolar AS melemah terhadap sekeranjang mata uang, dan yield obligasi pemerintah turun. Tingkat pengangguran naik dari 4,2 persen pada Juli, menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2021. Survei rumah tangga mencatat 436.000 orang masuk angkatan kerja, namun hanya 288.000 yang memperoleh pekerjaan.
Rata-rata durasi pengangguran juga meningkat menjadi 24,5 minggu, tertinggi sejak April 2022, menandakan semakin banyak orang yang kehilangan pekerjaan secara permanen. (***)






