Samsung Electronics semakin mengukuhkan dominasinya di pasar ponsel pintar Korea Selatan dengan torehan pangsa pasar mencapai 82 persen sepanjang tujuh bulan pertama tahun 2025. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir dan menunjukkan betapa kuatnya posisi Samsung di negeri asalnya.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari strategi ‘AI-first’ yang diusung perusahaan. Melalui inovasi fitur kecerdasan buatan (AI) yang terintegrasi dalam lini produk Galaxy, Samsung berhasil menarik perhatian konsumen di tengah persaingan ketat dengan merek global lainnya.
Galaxy AI Jadi Daya Tarik Utama
Seri Galaxy S25 dan ponsel lipat terbaru, Galaxy Z Fold 7, menjadi motor utama penjualan Samsung. Keduanya mengusung rangkaian fitur Galaxy AI yang canggih, melanjutkan kesuksesan teknologi AI yang pertama kali diperkenalkan pada Galaxy S24 di tahun sebelumnya.
Beberapa fitur unggulan seperti real-time translation (terjemahan langsung) dan generative editing untuk foto menjadi inovasi yang paling disukai pengguna. Fitur-fitur ini memungkinkan pengalaman komunikasi dan kreativitas yang lebih intuitif, menjadikan ponsel Samsung tidak sekadar alat komunikasi, tetapi juga asisten pintar bagi penggunanya.
Selain itu, inovasi di sisi perangkat keras turut memperkuat posisi Samsung. Desain ramping pada Galaxy S25 Edge dan klaim Galaxy Z Fold 7 sebagai ponsel lipat tertipis di dunia, semakin memperkokoh daya saing perusahaan di segmen premium.
Korea Selatan, Episentrum AI Dunia
Dominasi Samsung di pasar domestik memiliki arti strategis bagi industri global. Korea Selatan kini diakui sebagai salah satu pusat perkembangan teknologi AI dunia. Negara ini berada di peringkat ketiga secara global dalam jumlah pengajuan paten terkait AI antara tahun 2010 hingga 2021.
Selain itu, Korea Selatan juga menjadi rumah bagi industri semikonduktor paling maju di dunia – faktor krusial dalam pengembangan teknologi AI. Dengan dukungan kuat dari pemerintah melalui kebijakan Digital New Deal dan investasi miliaran dolar, ekosistem AI di negara ini berkembang pesat.
Pemerintah Korea Selatan bahkan telah menunjuk lima perusahaan besar – LG AI Research, SK Telecom, Naver Cloud, NC AI, dan Upstage – untuk mengembangkan model bahasa besar (large language model / LLM) buatan lokal yang diharapkan dapat menyaingi 95 persen performa sistem global seperti ChatGPT. Dari kelima perusahaan itu, dua akan dipilih untuk memimpin gerakan AI berdaulat nasional.
Minat Tinggi terhadap Teknologi AI
Ketertarikan masyarakat Korea Selatan terhadap AI juga diakui secara global. Sam Altman, CEO OpenAI, menyebut bahwa Korea Selatan merupakan pasar terbesar kedua di dunia untuk layanan berbayar ChatGPT, hanya kalah dari Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan betapa cepatnya masyarakat di negeri ginseng ini mengadopsi teknologi berbasis AI.
Sebagai bukti keseriusan, OpenAI baru-baru ini mengumumkan rencana pembangunan dua pusat data baru di Korea Selatan. Proyek ini dilakukan bekerja sama dengan dua raksasa teknologi lokal, Samsung Electronics dan SK Hynix, guna memenuhi permintaan AI yang terus meningkat.
Langkah tersebut mempertegas posisi Korea Selatan sebagai salah satu pusat kekuatan AI global – didukung oleh talenta teknologi tinggi, infrastruktur kelas dunia, serta dukungan pemerintah yang progresif.
Masa Depan AI dan Dominasi Samsung
Bagi Samsung, momentum ini menjadi pembuktian bahwa strategi ‘AI-first’ bukan sekadar jargon pemasaran. Kombinasi inovasi teknologi, desain produk premium, serta dukungan pasar domestik yang solid membuat perusahaan ini terus unggul dalam persaingan global.
Dengan penguasaan 82 persen pasar ponsel di Korea Selatan dan langkah-langkah strategis dalam pengembangan AI, Samsung tak hanya mempertegas statusnya sebagai pemimpin industri ponsel pintar, tetapi juga sebagai pionir dalam revolusi kecerdasan buatan yang mengubah wajah industri teknologi dunia. (***)












