Sir Alex Ferguson, salah satu manajer terbaik dalam sejarah sepak bola, mengungkapkan penyesalannya karena tak pernah bisa menyatukan dua legenda Manchester United, Denis Law dan Ruud van Nistelrooy, dalam satu skuad. Hal ini diungkap Ferguson dalam wawancara dengan The Guardian yang dikutip SPORTbible.
Ferguson, yang memimpin Manchester United selama 27 tahun sejak 1986, membawa klub keluar dari masa sulit menuju era kejayaan. Setelah sempat diragukan di awal kepemimpinannya, titik balik terjadi pada 1990 ketika ia mempersembahkan trofi Piala FA – gelar pertama dari rangkaian prestasi yang akan menyusul. Di era Premier League, Ferguson meracik tim yang dominan berkat kombinasi perekrutan pemain cerdas dan lulusan akademi berkualitas, menghasilkan 13 trofi liga, dua gelar Liga Champions, dan sembilan piala domestik lainnya.
Namun, di balik kesuksesan luar biasa tersebut, Ferguson masih menyimpan satu penyesalan. “Saya ingin sekali melatih Denis Law bersama Ruud van Nistelrooy,” ungkapnya. Pernyataan ini mengingatkan publik akan dua penyerang ikonik MU yang berbeda generasi. Law, yang berjuluk “The King,” menjadi bagian dari United Trinity bersama George Best dan Bobby Charlton, mencetak 237 gol dan memenangkan Ballon d’Or 1964. Sementara Van Nistelrooy, yang datang dari PSV Eindhoven pada 2001, dikenal sebagai salah satu penyerang paling klinis di Premier League dengan torehan 150 gol dalam lima musim.
Bayangan kombinasi keduanya di bawah asuhan Ferguson memicu spekulasi betapa dahsyatnya lini depan MU jika duet tersebut pernah terwujud. Dengan total 387 gol yang dikoleksi keduanya untuk klub, Ferguson percaya bahwa kombinasi ini bisa menjadi mimpi buruk bagi pertahanan lawan, baik di liga domestik maupun di kancah Eropa.
Musim 2012/13 menjadi momen perpisahan Ferguson setelah meraih gelar liga ke-13, menutup era yang hingga kini belum dapat ditandingi oleh penerusnya di Old Trafford. Meski dihiasi nama-nama besar seperti Ryan Giggs, David Beckham, Wayne Rooney, dan Cristiano Ronaldo, Ferguson tetap menyisakan ruang untuk penyesalan kecil – sebuah andai yang membuat penggemar United kembali bernostalgia. (***)












