Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa komoditas konsumsi harian seperti beras, rokok, dan kopi sachet menjadi penyumbang utama terhadap garis kemiskinan nasional per Maret 2025. Data terbaru mencatat bahwa konsumsi beras memberikan kontribusi terbesar dengan persentase mencapai 21,06%.
Dalam laporan resmi yang dirilis BPS, disebutkan bahwa kontribusi beras terhadap garis kemiskinan tetap mendominasi baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Di perkotaan, beras menyumbang sebesar 21,01%, sedangkan di perdesaan nilainya bahkan lebih tinggi, mencapai 24,93%. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan pokok seperti pangan masih menjadi faktor dominan dalam pengukuran tingkat kesejahteraan masyarakat.
Namun yang menjadi sorotan, konsumsi rokok filter tetap berada di urutan kedua sebagai komoditas penyumbang garis kemiskinan. Di wilayah perkotaan, rokok kretek filter menyumbang sebesar 10,72%, sedikit naik dibandingkan data sebelumnya pada September 2024 yang sebesar 10,67%. Di wilayah perdesaan, angkanya tercatat sebesar 9,76%.
Tak kalah mencengangkan, kopi sachet juga masuk ke dalam daftar 10 besar komoditas yang menyumbang terhadap garis kemiskinan. Produk ini semakin mencerminkan pola konsumsi masyarakat berpenghasilan rendah yang sebagian anggarannya masih dialokasikan untuk kebutuhan non-esensial.
Di luar kategori makanan, komoditas perumahan atau biaya tempat tinggal tercatat sebagai penyumbang terbesar terhadap garis kemiskinan di kategori non-makanan, yaitu sebesar 9,11% di wilayah perkotaan dan 8,99% di perdesaan. Diikuti oleh bensin yang memberikan kontribusi masing-masing 3,06% di perkotaan dan 3,03% di perdesaan.
BPS juga mengumumkan bahwa garis kemiskinan nasional per Maret 2025 ditetapkan sebesar Rp 609.160 per kapita per bulan. Angka ini mencerminkan nilai minimum pengeluaran yang dibutuhkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar, baik makanan maupun bukan makanan.
Pola Konsumsi Jadi Sorotan
Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan konsumsi masyarakat, terutama dari kelompok berpendapatan rendah, perlu menjadi perhatian dalam penyusunan kebijakan pengentasan kemiskinan. Dominasi komoditas seperti rokok dan kopi sachet menunjukkan adanya pengeluaran yang tidak sepenuhnya bersifat produktif atau mendukung pemenuhan gizi.
Para pakar ekonomi dan kebijakan sosial menyarankan agar program edukasi tentang pengelolaan keuangan keluarga serta penyadaran terhadap konsumsi yang sehat lebih digalakkan di tengah masyarakat. Konsumsi rokok yang tinggi tidak hanya berdampak pada sisi ekonomi, tetapi juga berdampak buruk terhadap kesehatan jangka panjang.
Implikasi terhadap Kebijakan Sosial dan Ekonomi
Pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada peningkatan daya beli masyarakat, tetapi juga perlu menyesuaikan program bantuan sosial agar bisa diarahkan pada penguatan konsumsi produktif. Misalnya dengan mendorong peningkatan konsumsi protein dan sayuran serta mempermudah akses terhadap perumahan yang layak dan terjangkau.
Selain itu, data BPS ini juga bisa menjadi landasan bagi pelaku industri dan pengambil kebijakan dalam meninjau ulang struktur harga bahan kebutuhan pokok. Kenaikan harga pada komoditas seperti beras dapat secara langsung mendorong peningkatan garis kemiskinan jika tidak dikendalikan dengan baik.
Secara keseluruhan, laporan BPS mengenai garis kemiskinan Maret 2025 memberi gambaran penting tentang pola konsumsi masyarakat miskin di Indonesia. Beras tetap menjadi kebutuhan pokok yang tak tergantikan, sementara rokok dan kopi sachet menunjukkan adanya tantangan dalam hal perilaku konsumsi. Pemerintah, melalui kebijakan yang lebih terarah dan berbasis data, perlu memastikan bahwa sumber daya masyarakat miskin digunakan untuk pemenuhan kebutuhan yang mendukung kualitas hidup jangka panjang. (***)







