Dua senator dari Partai Republik dan Demokrat mengirimkan surat resmi kepada CEO Nvidia, Jensen Huang, pada Jumat (11/7), menjelang kunjungan bisnisnya ke China. Mereka mengingatkan Huang untuk tidak bertemu dengan perusahaan-perusahaan yang diduga berperan dalam melemahkan kontrol ekspor chip buatan AS.
Surat tersebut ditandatangani oleh Senator Jim Banks dari Indiana (Republik) dan Elizabeth Warren dari Massachusetts (Demokrat). Mereka mendesak Huang agar tidak menjalin kontak dengan perusahaan yang memiliki hubungan dengan militer atau badan intelijen Tiongkok, maupun entitas yang telah masuk dalam daftar pembatasan ekspor AS.
“Kami khawatir bahwa kunjungan Anda ke Tiongkok dapat melegitimasi perusahaan-perusahaan yang bekerja sama erat dengan militer Tiongkok atau berpotensi mendiskusikan celah dalam kontrol ekspor AS,” tulis Banks dan Warren dalam surat itu.
Nvidia diketahui berencana meluncurkan versi lebih murah dari chip AI andalannya, Blackwell, khusus untuk pasar China, seperti dilaporkan Reuters pada Mei lalu. Keputusan ini muncul setelah pembatasan ekspor AI chip buatan Nvidia oleh pemerintah AS pada April lalu, yang menurut Huang dapat mengurangi pendapatan perusahaan hingga US$15 miliar.
Dalam pernyataannya, juru bicara Nvidia menyebut bahwa Amerika Serikat akan diuntungkan jika teknologinya menjadi standar global. Mereka juga menyoroti bahwa China merupakan salah satu negara dengan jumlah pengembang perangkat lunak terbesar di dunia.
“Perangkat lunak AI seharusnya berjalan optimal pada teknologi buatan AS, yang dapat mendorong negara-negara lain untuk memilih produk dari Amerika,” kata juru bicara itu.
Sebelumnya, dalam ajang Computex di Taipei pada Mei, Huang memuji keputusan mantan Presiden Donald Trump yang membatalkan sebagian aturan ekspor chip AI, dan menyebut aturan sebelumnya sebagai kebijakan yang gagal.
Senator Banks dan Warren menegaskan bahwa perangkat keras AI canggih dapat mempercepat upaya modernisasi militer Tiongkok. Mereka menyoroti adanya konsensus bipartisan untuk membatasi ekspor perangkat keras tersebut.
Kekhawatiran terhadap celah dalam pengawasan ekspor chip AI meningkat setelah laporan Reuters bulan lalu menyebut perusahaan DeepSeek membantu operasi militer dan intelijen Tiongkok, serta mencoba mengakali pembatasan ekspor dengan menggunakan perusahaan cangkang.
Dalam suratnya, para senator juga mengingatkan kembali keprihatinan mereka atas langkah Nvidia membuka pusat riset baru di Shanghai, yang dinilai bisa memperkuat industri chip dan AI di China.
Langkah tegas senator dari dua partai besar ini menunjukkan meningkatnya ketegangan antara kepentingan bisnis raksasa teknologi AS dan kebijakan strategis pemerintah dalam menghadapi pengaruh teknologi Tiongkok di kancah global. (***)












