Scroll untuk baca artikel
BisnisInternasional

Trump Tertahan di China: Strategi Perang Dagang Hadapi Tembok Kekuatan Xi Jinping

×

Trump Tertahan di China: Strategi Perang Dagang Hadapi Tembok Kekuatan Xi Jinping

Sebarkan artikel ini
Trump Tertahan di China Strategi Perang Dagang Hadapi Tembok Kekuatan Xi Jinping
Baca Berita Terupdate di Saluran Whatsapp Gratis

Setelah berhasil menundukkan Uni Eropa dalam kesepakatan dagang yang dinilai sebagian pemimpin blok tersebut sebagai bentuk penyerahan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi jalan buntu saat bernegosiasi dengan China. Pertemuan delegasi AS dan Presiden Xi Jinping yang berlangsung di Swedia tak menghasilkan terobosan berarti.

Sementara Washington telah merayakan serangkaian kesepakatan kerangka dagang dengan UE, Inggris, Jepang, Indonesia, dan Filipina, perundingan dengan China berjalan alot. Ini menjadi pengingat bahwa tak akan ada rekonstruksi tatanan dagang global tanpa keterlibatan Beijing.

Iklan

Alih-alih kemenangan berikutnya, para negosiator AS justru kembali ke Washington dengan usulan memperpanjang jeda tarif timbal balik yang dijadwalkan kembali berlaku pada 12 Agustus. Presiden Trump kini dihadapkan pada dua pilihan: melanjutkan perundingan atau memicu kembali perang dagang besar dengan China.

“Kami akan menyampaikan faktanya, dan keputusan akhir ada di Presiden,” ujar Menteri Keuangan AS Scott Bessent dikutip dari CNBC.

Kesuksesan Trump yang Belum Lengkap

Trump memang berhasil menekan mitra dagang lain seperti Eropa, memaksakan tarif hingga 15% atas ekspor mereka dan mendorong komitmen peningkatan anggaran pertahanan NATO hingga 2035. Namun, kemenangan ini tampaknya belum bisa diulang terhadap China.

Baca Juga:  China Tegaskan Kesepakatan TikTok Harus Patuhi Hukum Domestik Amid Ketegangan AS

Kegigihan Trump menempuh jalur proteksionisme belum menunjukkan dampak negatif yang luas seperti yang diperkirakan para ekonom. Namun banyak efek jangka panjang seperti inflasi harga konsumen dan gangguan rantai pasok diperkirakan baru akan terasa dalam beberapa bulan ke depan.

Meski demikian, pemerintahan Trump tetap dalam euforia. Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick bahkan menyebut gerakan Trump telah “mengubah dunia dalam enam bulan”.

Xi Jinping: Lawan Seimbang Trump

Tak seperti Eropa, China tak terikat pada payung keamanan AS atau isu geopolitik seperti Ukraina. Beijing berdiri dengan pijakan nasionalisme dan stabilitas politik otoriter yang membuat mereka tak mudah diintimidasi.

Xi tidak bisa dianggap enteng. Ia tak hanya memegang kendali penuh atas struktur pemerintahan, tapi juga punya kartu as berupa dominasi dalam produksi elemen tanah jarang, komponen vital dalam teknologi tinggi seperti satelit dan senjata pintar. China pernah menahan ekspor elemen tersebut sebagai respons terhadap tarif Trump.

Selain itu, struktur politik terpusat China memungkinkan Xi menanggung dampak domestik lebih besar ketimbang yang berani ditanggung oleh pemimpin demokratis seperti Trump. Artinya, Beijing punya daya tahan lebih dalam menghadapi konflik ekonomi berkepanjangan.

Baca Juga:  Trump Ancam Deportasi Elon Musk Usai Kritik Soal RUU Pajak dan Belanja

Benturan Gaya Diplomasi

Upaya negosiasi di Stockholm memperlihatkan perbedaan pendekatan fundamental: China datang dengan delegasi 75 pejabat, sementara AS hanya 15. Perundingan kemudian dikerucutkan menjadi pertemuan tertutup antara Bessent, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng.

Kubu AS berharap menekan China dengan tekanan waktu, sementara China menekankan perlunya kelanjutan jeda tarif untuk memberi ruang diplomasi. Meskipun disebutkan pertemuan berlangsung “konstruktif”, belum ada kesepakatan final.

Trump disebut sangat ingin bertemu langsung dengan Xi dalam pertemuan puncak di Beijing, berharap bisa mengulang keberhasilan citra seperti yang ia raih bersama pemimpin Eropa. Namun, pendekatan gaya “deal-maker” Trump bertabrakan dengan gaya diplomatik China yang penuh protokol dan negosiasi teknis berjenjang.

Risiko dan Ketidakpastian ke Depan

Kesepakatan dagang yang telah diumumkan AS sebelumnya dinilai dangkal dan penuh ketidakpastian. Perincian teknis yang kompleks masih belum diselesaikan, sehingga rawan retak. Bahkan dengan negara sekutu seperti Kanada, hubungan dagang tetap membeku akibat sikap keras Perdana Menteri Mark Carney.

Baca Juga:  Donald Trump: Gencatan Senjata di Gaza Semakin Dekat, Hamas Benarkan Perundingan Makin Intensif

Dengan risiko inflasi, tekanan pada konsumen AS, dan ketegangan politik jelang pemilu sela, Trump berada di persimpangan. Perang dagang yang meluas dapat mengguncang fondasi ekonomi yang telah ia bangun.

Satu hal yang jelas: kesepakatan dengan China adalah kunci utama dalam peta dagang global yang ingin Trump bentuk ulang. Namun, Beijing tahu persis pentingnya posisi mereka. Dan selama itu, mereka tak akan mudah mengalah. (***)

Berlangganan berita gratis di Whatsapp Channel
Dunia Sudah Canggih! Kreatiflah Sedikit...