India tengah menjadi sorotan publik internasional menyusul viralnya desain jembatan layang (flyover) ekstrem di Bhopal, negara bagian Madhya Pradesh. Proyek infrastruktur yang semula ditujukan untuk mengatasi kemacetan, justru menuai kontroversi tajam karena memiliki tikungan 90 derajat yang nyaris tegak lurus — tepat di atas jalur rel kereta api.
Jembatan yang dibangun di kawasan Aishbagh ini menjadi bahan olok-olok di media sosial dan dikritik keras oleh pakar keselamatan jalan. Banyak netizen menyebut flyover itu sebagai “jebakan maut di tengah kota” dan mempertanyakan logika di balik keputusan perencanaan tersebut.
Delapan Insinyur Diberhentikan, Konsultan Diblacklist
Pemerintah Madhya Pradesh langsung bertindak cepat. Kepala Menteri Mohan Yadav secara resmi memberhentikan delapan insinyur yang terlibat dalam proyek tersebut. Selain itu, perusahaan konstruksi dan konsultan desain juga masuk dalam daftar hitam (blacklist).
“Keselamatan publik adalah prioritas utama. Kesalahan fatal dalam desain seperti ini tidak dapat ditoleransi,” ujar Yadav dalam konferensi pers, Jumat (4/7/2025).
Pemerintah juga menunda peresmian jembatan hingga dilakukan evaluasi teknis menyeluruh oleh tim ahli yang dibentuk khusus untuk kasus ini.
Tikungan Tajam di Atas Rel, Potensi Bahaya Besar
Jembatan ini dirancang untuk menghubungkan Mahamai Ka Bagh, Pushpa Nagar, dan stasiun menuju New Bhopal. Namun, kehadiran tikungan tajam 90 derajat di ujung flyover, tepat di atas rel kereta api aktif, menimbulkan kekhawatiran besar akan potensi kecelakaan — khususnya bagi pengendara roda dua dan kendaraan besar seperti bus.
Video dan gambar yang menampilkan struktur jembatan telah beredar luas di media sosial. Dalam tayangan tersebut, terlihat kendaraan terpaksa melakukan manuver ekstrem untuk mengikuti arah jembatan yang membelok tajam dalam ruang yang sangat sempit.
Sejumlah warga Bhopal bahkan menggelar aksi protes damai, menuntut pertanggungjawaban pihak berwenang dan perombakan desain demi keselamatan publik.
Alasan Keterbatasan Lahan
Menurut pejabat dari tim proyek, desain ekstrem tersebut dibuat karena keterbatasan lahan dan keberadaan stasiun kereta bawah tanah di sekitar area flyover. Mereka mengklaim bahwa dengan perluasan lahan, jembatan seharusnya dapat dibuat dengan lengkungan yang lebih aman.
“Ini adalah kompromi teknis akibat kondisi lahan yang sangat sempit. Namun kami menerima bahwa hasilnya menimbulkan risiko keselamatan,” ujar salah satu insinyur yang kini telah dicopot dari jabatannya.
Proyek Senilai Rp 3,4 Miliar Berujung Polemik
Flyover dengan anggaran sekitar 19 crore rupee (setara Rp 3,4 miliar) ini awalnya ditargetkan untuk melayani lebih dari 300.000 warga Bhopal setiap harinya. Namun kini, proyek tersebut menjadi bahan olok-olok nasional dan simbol buruknya perencanaan infrastruktur publik.
Sejumlah ahli tata kota menyebut insiden ini sebagai contoh nyata minimnya koordinasi antara perencana, eksekutor proyek, dan badan pengawas teknis. Mereka mendesak adanya audit menyeluruh terhadap seluruh proyek infrastruktur yang sedang berjalan.
Pemerintah Madhya Pradesh berjanji akan melakukan evaluasi ulang terhadap seluruh proyek flyover dan jalan layang serupa di negara bagian tersebut. Komite khusus juga telah dibentuk untuk menyusun standar baru terkait desain jalan layang di kawasan padat penduduk.
“Insiden ini menjadi pelajaran mahal bagi semua pihak. Kami akan memastikan tidak ada lagi proyek yang membahayakan warga,” tutup Mohan Yadav. (***)






