Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada akhir perdagangan Selasa (9/9). IHSG merosot 138,244 poin atau 1,78 persen ke level 7.628,604. Pelemahan ini terjadi di tengah momentum serah terima jabatan (sertijab) Menteri Keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa.
Reaksi Pasar Dinilai Sementara
Global Market Economist Maybank, Myrdal Gunarto, menilai bahwa anjloknya IHSG hanya bersifat sementara. Menurutnya, Purbaya merupakan figur berpengalaman di pemerintahan yang dinilai mampu menjaga sinergi kebijakan lintas lembaga, termasuk dalam mendukung kebijakan fiskal.
“Beliau (Purbaya) juga cukup lama berkarier di market, jadi seharusnya masih akan market friendly. Kalau pun ada shock di sisi nilai tukar maupun pasar keuangan, hanya akan bersifat sementara,” ujar Myrdal kepada kumparan.
Meski begitu, Myrdal menilai Purbaya tetap perlu beradaptasi dengan pandangan fiskal yang menjadi fokus utama di Kementerian Keuangan. Ia menekankan pentingnya koordinasi dengan jajaran wakil menteri dan pejabat eselon dalam implementasi kebijakan fiskal.
Kekecewaan Pasar Usai Kepergian Sri Mulyani
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, melihat pergantian Sri Mulyani meninggalkan kekecewaan di pasar. Menurutnya, Sri Mulyani telah menjadi sosok yang mampu menjaga kepercayaan investor asing terhadap Indonesia, khususnya di tengah kekhawatiran fiskal tahun ini.
“Ketika kekecewaan itu datang, selanjutnya pelaku pasar dan investor akan melihat apakah pengganti Ibu Sri Mulyani mampu memberikan keyakinan terhadap pasar atau tidak,” ujar Nico.
Ia menambahkan, reaksi pasar cenderung bersifat jangka pendek. Dalam jangka menengah hingga panjang, pasar diyakini akan pulih, terlebih jika kebijakan pemangkasan suku bunga The Fed terealisasi dalam waktu dekat.
“Kita berharap ini akan menjadi koreksi sehat, dengan titik terendah di 7.600 untuk menjaga peluang kembali ke 8.000,” imbuhnya.
Data Perdagangan dan Rupiah
Berdasarkan data perdagangan, sebanyak 222 saham tercatat menguat, 465 saham melemah, dan 118 saham stagnan. Total frekuensi transaksi mencapai 2.368.928 kali dengan volume perdagangan 39,595 miliar saham, senilai Rp 24,846 triliun.
Sementara itu, nilai tukar rupiah juga ikut tertekan. Mengutip Bloomberg, rupiah sore ini melemah 172 poin atau 1,05 persen ke posisi Rp 16.481 per dolar AS.
Dengan kondisi ini, pelaku pasar kini menantikan langkah konkret dari Menkeu Purbaya dalam menjaga stabilitas fiskal dan kepercayaan pasar, di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. (***)












