Jutaan dolar dana federal untuk program vaksinasi di Amerika Serikat mendadak dipangkas tanpa penjelasan memadai, memicu kekhawatiran akan meningkatnya wabah penyakit menular. Keputusan ini menyusul hasil tinjauan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) atas perjanjian pendanaan yang berdampak pada puluhan program imunisasi negara bagian dan lokal.
Program-program tersebut menyatakan akan menghadapi kemungkinan pemutusan hubungan kerja dan pemangkasan layanan akibat kekurangan dana, yang bisa berdampak langsung pada turunnya angka vaksinasi, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah dan tidak memiliki asuransi.
Lonjakan Penyakit Menular dan Minimnya Perlindungan
Sementara itu, lonjakan kasus penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin terus terjadi. Hingga pertengahan tahun ini, lebih dari 10.000 warga AS telah terserang pertusis atau batuk rejan, dengan lima anak meninggal dunia. Wabah campak yang belum padam telah merenggut tiga nyawa dan mengancam status eliminasi penyakit tersebut di AS.
“Mengapa seseorang menciptakan kekacauan di tengah wabah campak terburuk dalam 30 tahun terakhir?” tanya seorang pakar kebijakan kepada CNN, yang meminta identitasnya dirahasiakan karena khawatir akan pembalasan dari pemerintah.
Program Dibiayai Dana Federal yang Kini Terkikis
Sebagian besar dana program vaksinasi di negara bagian bersumber dari hibah federal yang dialokasikan melalui Bagian 317 Undang-Undang Layanan Kesehatan Masyarakat. Dana tersebut memungkinkan pemerintah daerah untuk mengumpulkan data vaksinasi, menyediakan vaksin gratis bagi anak dan dewasa rentan, memantau keamanan vaksin, dan melawan misinformasi.
Namun, alih-alih dikucurkan pada 1 Juli sebagaimana mestinya, pemberian dana tahun ini mengalami penundaan signifikan akibat tinjauan menyeluruh oleh HHS.
Andrew Nixon, Direktur Komunikasi HHS, menjelaskan bahwa peninjauan ini merupakan bagian dari inisiatif efisiensi anggaran bertajuk “Defend the Spend.”
“Kami ingin memastikan bahwa uang rakyat digunakan secara efektif dan transparan. Kami bekerja sama dengan para penerima hibah untuk menyelesaikan kendala secepat mungkin,” ujar Nixon.
Dampak Pemangkasan: Layoff, Keterlambatan Layanan, dan Ketidakpastian
Dari 66 yurisdiksi yang menerima dana tahun ini, sekitar 40 mendapatkan jumlah lebih kecil dari target. Beberapa di antaranya bahkan memperoleh dana yang lebih rendah dari yang diberikan pada 2019, tahun terakhir sebelum pandemi.
Massachusetts, New York, Indiana, California, dan Arizona termasuk wilayah yang mengalami penurunan dana dibandingkan tahun 2019. Negara bagian Washington yang awalnya dijanjikan US$ 9,5 juta, hanya menerima US$ 7,8 juta – pemotongan sebesar 18%.
“Sulit dipercaya, bagaimana mungkin kita keluar dari pandemi dengan sebagian besar negara bagian menjadi kurang siap?” ujar seorang advokat kesehatan masyarakat yang enggan disebut namanya.
Idaho bahkan sempat memulangkan staf program imunisasi tanpa pemberitahuan karena dana tak kunjung tiba. Ketika dana akhirnya masuk keesokan harinya, operasional sempat lumpuh. New Haven, Connecticut, terpaksa memecat sejumlah staf vaksinasi karena tidak mendapat subhibah dari pemerintah negara bagian.
Formula Baru, Dana Lebih Sedikit
Meskipun formula pendanaan baru mempertimbangkan jumlah penduduk, wilayah pedesaan, dan tingkat partisipasi dalam program Vaksin untuk Anak-anak (VFC), pemotongan tidak dijelaskan secara spesifik.
Program imunisasi diberi proyeksi total pendanaan sebesar US$ 418 juta, namun total yang diterima hanya sekitar US$ 398 juta.
Negara bagian seperti Hawaii bahkan harus meminjam hingga US$ 100.000 dari kas negara untuk membayar gaji dan operasional hingga dana federal masuk dua minggu kemudian.
Pemangkasan Tambahan: Warisan Pandemi yang Tergerus
Krisis ini diperparah dengan penarikan dana bantuan Covid-19 yang belum terpakai. Maret lalu, HHS memerintahkan CDC untuk menarik kembali dana sebesar US$ 11,4 miliar dari program lokal dan negara bagian, serta US$ 1 miliar dari Badan Layanan Penyalahgunaan Zat dan Kesehatan Mental (SAMHSA).
Survei dari Asosiasi Manajer Imunisasi menunjukkan bahwa penarikan dana ini telah menyebabkan hilangnya 579 posisi staf.
“Penarikan dana ini adalah tindakan gegabah,” kata Dr. Brian Castrucci, CEO deBeaumont Foundation, yang mendukung tenaga kerja kesehatan masyarakat. “Kita sedang menyaksikan pembongkaran sistem perlindungan kesehatan masyarakat secara nyata.”
Siklus Pengabaian Pasca Pandemi
Dr. Caitlin Rivers dari Johns Hopkins menegaskan bahwa publik seolah lupa akan pentingnya investasi berkelanjutan dalam kesehatan publik.
“Saat ada krisis besar, dana digelontorkan. Namun ketika ancaman mereda, kita mulai melupakan alasan perlunya pertahanan tersebut. Lima tahun setelah Covid, kita memasuki siklus pengabaian,” ujarnya.
Jika program vaksinasi tidak didanai secara memadai, “kita akan terus tertinggal dan membuka peluang bagi wabah campak dan pertusis, seperti yang kini kita saksikan,” tambahnya.
Dengan pemotongan dana yang tiba-tiba dan tanpa kejelasan, masa depan kekebalan komunitas di Amerika kini berada dalam titik rawan. Krisis ini menuntut kejelasan, tindakan cepat, dan keberanian untuk kembali menempatkan kesehatan publik sebagai prioritas nasional. (***)






