Nama Mason Mount kembali mencuat di Manchester United setelah mencetak gol penting ke gawang Sunderland, gol pertamanya di Premier League musim ini sekaligus yang pertama di Old Trafford. Namun di balik sorotan tersebut, terselip kisah masa lalu antara Mount dan mantan manajernya, Erik ten Hag, yang diyakini masih menyimpan penyesalan mendalam.
Ten Hag, Sosok di Balik Kedatangan Mount
Erik ten Hag menjadi arsitek utama di balik kedatangan Mason Mount ke Old Trafford pada Juli 2023. Mantan pelatih Ajax itu begitu yakin sang gelandang akan menjadi bagian penting dalam skema permainan Manchester United. Namun, cedera berkepanjangan membuat rencana itu tak berjalan sesuai harapan.
Selama hampir 15 bulan bekerja sama, Mount hanya tampil sebagai starter dalam tujuh laga Premier League. Sumber internal klub menyebut Ten Hag percaya nasibnya di Old Trafford bisa berbeda jika Mount tidak berkutat dengan masalah kebugaran.
Sayangnya, performa Mount yang inkonsisten akibat cedera turut memperparah situasi tim di bawah asuhan Ten Hag, yang akhirnya berujung pada pemecatannya.
Kebangkitan di Era Ruben Amorim
Kedatangan Ruben Amorim sebagai pelatih baru pada November 2024 membawa angin segar bagi Mount. Ia perlahan kembali masuk ke skuad utama setelah absen panjang. Namun, Amorim tetap berhati-hati dalam mengatur menit bermain sang pemain.
Dalam laga melawan Sunderland, Mount tampil menonjol dengan satu gol sebelum akhirnya ditarik keluar pada menit ke-66. Amorim menjelaskan bahwa keputusan itu sudah direncanakan sejak awal demi menjaga kondisi fisik Mount.
“Dia tampil sangat bagus, tapi kami harus mengatur waktu bermainnya. Pemain yang baru pulih dari cedera perlu dijaga agar tidak kambuh,” ujar Amorim.
Kebijakan hati-hati ini menjadi penting mengingat MU akan menghadapi jadwal berat usai jeda internasional, termasuk lawatan ke markas Liverpool di Anfield, serta laga krusial melawan Brighton & Hove Albion, Nottingham Forest, dan Tottenham Hotspur.
Mount, Pemain Favorit Amorim
Mount menjadi salah satu pemain pertama yang ditemui Amorim saat tiba di Carrington. Kala itu, Mount masih menjalani pemulihan cedera di gym sementara sebagian rekan setimnya tengah berlibur. Sikap profesional dan etos kerja tinggi Mount langsung menarik perhatian pelatih asal Portugal tersebut.
Amorim dikenal berusaha membangun ulang atmosfer ruang ganti MU dengan menyingkirkan pengaruh negatif. Langkah itu membuat Marcus Rashford dan Alejandro Garnacho harus angkat kaki dari klub, sementara Mount justru dijadikan contoh teladan bagi pemain lain.
Bahkan selama masa pemulihan, Mount tetap aktif menghadiri rapat tim untuk mempelajari sistem permainan baru Amorim. Ia juga dikenal sebagai pemain yang paling lama berada di fasilitas latihan karena menjalani terapi sauna dan es setelah latihan.
“Saya punya pengalaman bermain dengan formasi yang mirip dengan apa yang disukai Amorim. Jadi di awal, mungkin dia bisa sedikit mengandalkan saya karena saya memahami perannya,” ujar Mount.
Peran Baru di Lini Tengah
Dalam sistem Amorim, Mount bukan hanya ditempatkan sebagai gelandang serang, tetapi juga diberi tanggung jawab tambahan untuk menjaga keseimbangan tim. Ia kerap diposisikan menggantikan Matheus Cunha, rekrutan anyar senilai 62,5 juta paun, yang lebih berperan sebagai penyerang.
Berbeda dengan pemain seperti Cunha atau Bryan Mbeumo yang fokus menyerang, Mount menawarkan kombinasi antara kreativitas dan kerja keras. Ia mampu menekan lawan, menutup ruang, serta membantu Bruno Fernandes dan Casemiro dalam situasi bertahan.
“Saya rasa Mason Mount memberi kami lebih banyak opsi di lini tengah. Ia bisa bertahan dengan baik, cerdas, dan juga menyerang dengan baik. Kami akan menyesuaikan karakteristiknya tergantung lawan,” ujar Amorim.
Fokus ke Anfield dan Piala Dunia 2026
Tantangan besar menanti Mount akhir pekan ini saat Manchester United bertandang ke Anfield. Amorim berharap energinya bisa menjadi pembeda di laga krusial tersebut.
“Saya merasa bisa membawa banyak energi ke tim, memulai tekanan sejak awal, menjadi katalis di lini depan. Itu selalu jadi fokus saya,” ucap Mount.
Energi dan pressing intens yang dibawa Mount menjadi elemen penting dalam filosofi Amorim. Pasalnya, MU di era sebelumnya kerap kesulitan bangkit setelah kebobolan lebih dulu — terjadi dalam 22 dari 34 pertandingan Premier League terakhir.
Mount kini bertekad untuk memperbaiki catatan itu sekaligus membuktikan dirinya layak kembali ke Timnas Inggris jelang Piala Dunia 2026. Ia disebut masih dipantau oleh Thomas Tuchel, pelatih yang pernah mengasahnya di Chelsea dan membawa tim itu juara Liga Champions 2021.
Bagi Erik ten Hag, kebangkitan Mount di bawah Amorim mungkin menjadi penyesalan tersendiri. Pemain yang ia perjuangkan datang ke Old Trafford akhirnya menunjukkan kualitas yang selama ini hanya bisa dibayangkan. (***)












