PT Pertamina International Shipping (PIS) menegaskan komitmennya menjadikan Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) sebagai fondasi kepemimpinan dan budaya kerja di seluruh aspek bisnis. Komitmen tersebut menjadi fokus utama dalam gelaran HSSE Leaders Forum 2025 yang mengusung tema “From Commitment to Action: Integrating Assurance into Strategic Shipping Excellence”.
Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan, Capt. Antoni Ari Priadi, menekankan bahwa faktor manusia menjadi kunci keselamatan maritim. Ia mengungkapkan lebih dari 90 persen kecelakaan laut bersumber dari aspek manusia, mulai dari kelelahan, kurangnya kesadaran situasional, hingga lemahnya kepatuhan prosedur.
“Tantangan faktor manusia adalah tanggung jawab kolektif kita semua. Setiap pelaut bukan hanya pekerja, tetapi penjaga keselamatan di laut. Dengan kepemimpinan konsisten, pelatihan berkelanjutan, serta kolaborasi lintas sektor, kita bisa membangun budaya keselamatan maritim yang kokoh sehingga HSSE benar-benar menjadi identitas, bukan sekadar kewajiban,” tegas Capt. Antoni dalam keterangan resmi, Kamis (11/9).
Menurutnya, kesejahteraan pelaut wajib menjadi prioritas. Mulai dari kesehatan fisik dan mental, jam kerja yang manusiawi, hingga lingkungan kerja aman merupakan fondasi pencegahan insiden. Penerapan aturan kerja dan istirahat sesuai International Convention on Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW) serta penyediaan perlindungan sosial disebut sebagai investasi penting untuk keselamatan bersama.
HSSE sebagai Tolok Ukur Bisnis Berkelanjutan
Pada kesempatan yang sama, Direktur Armada PIS, M. Irfan Zainul Fikri, menyampaikan bahwa HSSE bukan hanya hasil audit teknis, melainkan ukuran kualitas dan tolok ukur keberlanjutan bisnis.
“HSSE menjadi second line of defense yang memastikan bahwa semua keputusan bisnis, baik operasional, komersial, maupun strategis, dijalankan secara selamat, aman, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ujar Irfan.
Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi digital, artificial intelligence (AI), serta analisis prediktif dapat mengubah pendekatan HSSE dari sekadar reaktif menjadi proaktif bahkan prediktif. Dengan demikian, HSSE mampu memperkuat daya saing bisnis di tingkat global.
Langkah Strategis PIS
PIS sendiri telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk memperkuat standar HSSE nasional. Di antaranya adalah:
- Standardisasi manajemen kapal untuk memastikan keseragaman operasional, efisiensi, dan kepatuhan terhadap regulasi internasional.
- Pencapaian zero fatality dan 40,5 juta jam kerja aman sepanjang 2024.
- Pertamina Safety Approval (PSA), mekanisme vetting nasional yang kini diadopsi luas oleh industri perkapalan.
- Batas usia kapal produk, maksimal 28 tahun pada 2025 dan 25 tahun pada 2028, sebagai upaya memperkuat keselamatan dan keberlanjutan.
- Penerapan standar global, termasuk Zero NoA, Zero Fraud, TMSA, hingga aktif dalam program SIRE.
Langkah-langkah tersebut memperlihatkan transformasi regulasi dan budaya keselamatan yang menjadi pondasi industri pelayaran berkelanjutan.
HSSE sebagai Identitas Perusahaan
Melalui HSSE Leaders Forum 2025, PIS menegaskan bahwa HSSE bukan sekadar program kepatuhan, melainkan identitas perusahaan yang membentuk budaya kerja. Pendekatan yang menitikberatkan pada faktor manusia, integrasi teknologi, serta standardisasi global diharapkan mampu membawa industri pelayaran nasional menuju shipping excellence sekaligus memperkuat posisi Indonesia di kancah maritim dunia. (***)












