Miliarder dan CEO Tesla serta SpaceX, Elon Musk, kembali mengejutkan publik Amerika Serikat. Kali ini bukan dengan teknologi atau bisnis luar angkasa, melainkan langkah politik. Musk mengumumkan pendirian partai politik baru bernama Amerika Party atau Partai Amerika, yang menurutnya akan “mengembalikan kebebasan” bagi rakyat AS dalam bernegara.
“Dengan faktor 2 banding 1, Anda menginginkan partai politik baru dan Anda akan mendapatkannya!” tulis Musk melalui akun pribadinya di platform X, Selasa (2/7/2025) waktu setempat.
Musk menyebut partainya sebagai gerakan independen yang bertujuan menjadi penyeimbang di tengah polarisasi dua partai besar yang mendominasi sistem politik Amerika, yaitu Demokrat dan Republik.
Target Kursi Penentu di Senat dan DPR
Dalam pernyataan lanjutannya, Musk menargetkan 2 hingga 3 kursi di Senat dan 8 hingga 10 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) pada pemilu mendatang.
“Mengingat margin legislatif yang sangat tipis, itu akan cukup untuk menjadi suara penentu pada undang-undang yang kontroversial. Kami ingin memastikan bahwa undang-undang benar-benar mewakili kehendak rakyat,” tegas Musk.
Langkah tersebut menunjukkan niatan serius sang pengusaha untuk masuk ke panggung politik dengan kekuatan baru, yang dapat menjadi kingmaker dalam proses legislasi.
Belum Terdaftar Secara Resmi
Meski telah dideklarasikan di ruang publik, hingga saat ini Partai Amerika belum secara resmi terdaftar di Federal Election Commission (FEC)—lembaga yang mengatur dan mengawasi pendanaan kampanye politik di AS.
Musk belum menyebut secara spesifik di negara bagian mana partainya akan pertama kali mendaftarkan diri. Namun, ia mengisyaratkan bahwa timnya tengah bersiap untuk menggelar kaukus independen dan menjalin komunikasi lintas partai.
“Kami akan melakukan diskusi legislatif dengan dua partai utama (Demokrat dan Republik),” tulis Musk dalam balasan di X kepada seorang pengguna yang mempertanyakan posisi partainya dalam sistem yang ada.
Respons Publik dan Pengamat Politik
Deklarasi partai baru dari Elon Musk ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat dan analis politik. Beberapa memuji langkahnya sebagai bentuk “disrupsi politik” yang berpotensi menyegarkan demokrasi Amerika. Sementara lainnya menilai bahwa pembentukan partai baru sangat sulit mengingat sistem first-past-the-post yang membuat dua partai besar selalu mendominasi.
Pengamat politik dari Georgetown University, Prof. Elaine Morrison, mengatakan bahwa langkah Musk bisa saja menggugah minat generasi muda dan independen yang kecewa dengan politik tradisional.
“Dengan pengaruh dan pengikutnya yang besar, Musk berpotensi menciptakan suara alternatif. Namun tantangan struktural dan logistik untuk partai baru di AS sangat besar,” ujarnya.
Musk bukan sosok asing dalam urusan politik. Ia kerap menyuarakan pendapat terkait kebijakan publik, kebebasan berbicara, dan masa depan demokrasi digital. Pada tahun-tahun sebelumnya, ia sempat berkonflik dengan regulator pemerintah dan terlibat dalam perdebatan tentang sensor media sosial.
Namun, ini kali pertama Musk secara eksplisit membentuk kendaraan politik sendiri dengan ambisi meraih kursi legislatif. (***)












