Scroll untuk baca artikel
Internasional

Warga Gaza Utara Pulang ke Reruntuhan Pasca Gencatan Senjata, ‘Kami Kembali Tanpa Rumah dan Air’

×

Warga Gaza Utara Pulang ke Reruntuhan Pasca Gencatan Senjata, ‘Kami Kembali Tanpa Rumah dan Air’

Sebarkan artikel ini
Warga Gaza Utara Pulang ke Reruntuhan Pasca Gencatan Senjata, 'Kami Kembali Tanpa Rumah dan Air'
Baca Berita Terupdate di Saluran Whatsapp Gratis

Gencatan senjata antara Hamas dan Israel membawa harapan baru bagi warga Palestina yang selama dua tahun terakhir hidup dalam penderitaan. Warga yang sebelumnya mengungsi kini mulai kembali ke Gaza utara, salah satu wilayah yang paling parah terdampak serangan Israel.

Namun, harapan itu segera berubah menjadi kesedihan mendalam. Reruntuhan bangunan, jalan yang tertutup puing, dan aroma debu serta kematian menyambut para pengungsi yang baru kembali ke rumah mereka.

Iklan

Gaza Utara Kini Tak Lagi Dikenali

Sherin Abu al-Yakhni, salah satu warga yang kembali ke Gaza utara, tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat melihat kondisi daerah asalnya. Ia berdiri terpaku menatap puing-puing bangunan yang dulunya adalah rumah, sekolah, dan pasar tempat ia tumbuh besar.

“Apakah itu Gaza? Apakah itu yang tersisa dari Gaza? Apakah ini kehidupan? Kami kembali tanpa rumah dan tanpa tempat berlindung untuk anak-anak kami, dan musim dingin semakin dekat,” ujar Sherin dengan nada getir, seperti dikutip dari Aljazeera, Minggu (12/10).

Baca Juga:  Microsoft Diduga Dukung Militer Israel dalam Perang Gaza

Ia menambahkan bahwa kondisi kehidupan di wilayah itu sangat memprihatinkan. “Tidak ada makanan dan air. Sejak kemarin, kami tidak dapat menemukan seteguk air pun untuk anak-anak kami,” katanya lagi.

Kehancuran yang Lebih Parah dari Sebelumnya

Farah Saleh, warga Palestina lainnya, mengaku kaget dengan skala kehancuran yang ia temui kali ini. Menurutnya, situasi Gaza utara jauh lebih buruk dibandingkan kunjungan terakhirnya beberapa bulan lalu.

“Kami pernah kembali ke utara sebelumnya, dan tempat itu hancur. Tetapi kali ini, kembali ke Gaza utara, kami terkejut dengan apa yang kami lihat. Besarnya kehancuran ini. Semakin jauh kami berjalan, semakin kami terkejut,” ujarnya dengan nada getir.

Laporan Aljazeera menunjukkan sejumlah buldoser mulai dikerahkan untuk membersihkan puing-puing bangunan yang menutupi jalan-jalan utama. Di tengah proses pembersihan itu, warga tampak berjalan kaki membawa barang-barang seadanya, mencoba mencari sisa kehidupan di antara bangunan yang hancur.

Data PBB Ungkap Skala Kehancuran

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat hingga Agustus 2025, sebanyak 92 persen bangunan tempat tinggal dan 88 persen fasilitas komersial di Gaza telah rusak atau hancur akibat serangan Israel.

Baca Juga:  Prancis Desak Uni Eropa Tekan Israel Dukung Solusi Dua Negara

Lebih jauh lagi, 89 persen jaringan air dan sanitasi juga mengalami kerusakan parah. Akibatnya, lebih dari 96 persen rumah tangga di Gaza kini tidak memiliki akses terhadap air bersih.

Dalam laporan yang sama, PBB mengungkapkan bahwa serangan udara dan darat Israel selama dua tahun terakhir telah merusak 125 fasilitas kesehatan, termasuk 34 rumah sakit. Setidaknya 1.722 petugas kesehatan turut menjadi korban jiwa akibat konflik berkepanjangan ini.

Harapan Tipis di Tengah Puing

Meski gencatan senjata telah diumumkan, situasi kemanusiaan di Gaza masih jauh dari kata pulih. Ribuan keluarga kini hidup tanpa rumah, tanpa air bersih, dan dengan pasokan makanan yang terbatas. Musim dingin yang segera tiba menambah kekhawatiran akan meningkatnya jumlah korban akibat kondisi ekstrem.

Bagi warga seperti Sherin dan Farah, pulang ke Gaza bukan berarti kembali ke rumah. Bagi mereka, Gaza kini hanya simbol kehilangan, tempat di mana masa lalu hancur dan masa depan masih dipenuhi ketidakpastian. (***)

Berlangganan berita gratis di Whatsapp Channel
Dunia Sudah Canggih! Kreatiflah Sedikit...