Hubungan antara dua pemimpin nasionalis dunia, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri India Narendra Modi, kini berada di titik panas. Trump melancarkan tekanan terbuka terhadap India yang dinilainya terlalu akrab dengan Rusia, khususnya dalam pembelian minyak mentah.
Dikutip dari CNBC, Senin (5/8), Trump mengancam akan menaikkan tarif impor barang dari India secara “substantial” dalam waktu 24 jam. Ancaman ini dilontarkan setelah sebelumnya ia telah menetapkan tarif minimum 25% terhadap produk India.
“India terus membeli minyak Rusia dengan harga murah. Mereka juga merupakan pembeli utama perlengkapan militer dari Rusia,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social. “Saat dunia meminta Rusia menghentikan pembunuhan di Ukraina, India malah memperkuat pundi-pundi Moskow. Ini tidak bisa diterima.”
Posisi Sulit India
India, kini ekonomi terbesar keempat di dunia, menegaskan bahwa keputusan membeli minyak Rusia semata-mata didasarkan pada alasan ekonomi. Harga yang ditawarkan Rusia jauh lebih murah dibanding pemasok tradisional seperti negara-negara Timur Tengah.
“Kami memiliki populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa dan kebutuhan energi kami terus meningkat,” ujar Amitabh Singh, pengamat energi dari Jawaharlal Nehru University. “Kami tidak bisa serta-merta menghentikan impor dari Rusia.”
Menurut data Kpler, dalam enam bulan pertama tahun ini, Rusia menyuplai 36% dari total impor minyak mentah India, menjadikannya mitra terbesar New Delhi dalam sektor energi.
Ketergantungan Energi dan Tekanan Global
India mengimpor sekitar 80% kebutuhan minyaknya. Dengan sanksi AS yang sebelumnya telah memaksa India berhenti membeli minyak dari Iran dan Venezuela, ruang gerak New Delhi semakin terbatas.
“Tangan kami terikat di belakang,” tambah Singh. “Kami berusaha mendiversifikasi sumber energi, namun tidak mungkin menutup celah 3,4 juta barel per hari yang disuplai Rusia secara instan.”
Ironisnya, India mengekspor sebagian dari minyak yang telah diolah kembali ke negara-negara Barat, termasuk AS dan Inggris. Produk olahan ini tidak masuk dalam sanksi terhadap Rusia, menciptakan celah hukum yang dinikmati banyak negara.
Dampak Global Jika India Patuh
Jika India mematuhi tuntutan Trump, dampaknya bisa dirasakan global. Harga minyak diprediksi melonjak, termasuk di pasar AS.
“Jika India bersaing dengan Barat untuk minyak Timur Tengah, maka inflasi akan meningkat,” jelas Singh. “Saat ini, pembelian minyak Rusia oleh India secara tidak langsung menstabilkan pasar global.”
Pada tahun 2023, India mengekspor produk minyak senilai lebih dari US$86 miliar, menjadikannya eksportir produk minyak olahan terbesar kedua di dunia.
Sejarah Hubungan India-Rusia
Kemitraan India-Rusia bukanlah hal baru. Sejak era Perang Dingin, India lebih condong ke Uni Soviet saat AS mendukung Pakistan. Hubungan militer dan energi antara India dan Rusia telah berlangsung selama puluhan tahun.
Meski kini India menjalin hubungan lebih erat dengan AS, termasuk dalam pembelian senjata dari Prancis dan Israel, Rusia tetap menjadi pemasok senjata utama India. Kunjungan Modi ke Moskow tahun lalu, yang diwarnai pelukan hangat dengan Presiden Vladimir Putin, menandai eratnya hubungan kedua negara.
Retaknya Hubungan Trump-Modi
Persahabatan Trump dan Modi pernah dirayakan secara terbuka. Dalam kampanye tahun 2019, Trump menyebut dirinya sebagai “sahabat terbaik India”.
Namun retorika Trump kini berubah drastis. Selain menyalahkan India atas ketidakberhasilannya menghentikan perang Rusia-Ukraina, ia juga kecewa karena India tak mengakui peran AS dalam meredakan ketegangan dengan Pakistan.
“Saya tidak peduli apa yang dilakukan India dengan Rusia,” tulis Trump pekan lalu di Truth Social. “Mereka bisa membawa ekonomi mati mereka ke jurang, saya tak peduli.”
Tanggapan India
Pemerintah India menolak disebut sebagai pihak yang memperkuat mesin perang Rusia. Mereka menilai tudingan AS bersifat pilih kasih, mengingat negara-negara Barat sendiri masih melakukan perdagangan produk non-energi dengan Rusia.
“Ini kebijakan yang tidak adil dan tidak seimbang,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri India.
New Delhi menegaskan akan tetap menjalin dialog perdagangan dengan Washington, namun tak akan tunduk pada tekanan sepihak.
Penutup
Ancaman tarif Trump menambah kompleksitas geopolitik dunia yang sudah tegang akibat perang Ukraina. India, sebagai kekuatan ekonomi baru yang sedang tumbuh, kini menghadapi ujian diplomasi besar: mempertahankan kepentingan nasional tanpa merusak hubungan strategis dengan dua raksasa dunia yang sedang berseteru. (***)












