Bisnis
ASEAN Sepakat Perkuat Kerja Sama Hadapi Tekanan Ekonomi Global, RI Dorong Kemandirian Nasional
R
Redaksi RusdiMedia
· 3 menit baca

Negara-negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia, menyatakan komitmennya untuk memperkuat kerja sama regional dan mencari pasar alternatif dalam merespons tekanan ekonomi global, khususnya kebijakan tarif tinggi dari Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI) Sugiono usai menghadiri pertemuan ASEAN Foreign Ministers' Meeting (AMM) di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (9/7). Sugiono mengungkapkan bahwa seluruh Menlu ASEAN menyuarakan keprihatinan serupa terhadap dampak kebijakan proteksionis AS dan sepakat untuk tidak mengambil langkah retaliasi.
"Bukan soal menghilangkan ketergantungan, tetapi mencari pasar alternatif untuk menghadapi situasi ekonomi global seperti ini. ASEAN adalah kawasan besar dengan 700 juta penduduk, yang merupakan pasar yang sangat potensial," ujar Sugiono kepada awak media.
Lebih lanjut, Sugiono menekankan bahwa meskipun isu tarif AS tidak dibahas secara spesifik dalam forum tersebut, tidak ada negara ASEAN yang berniat membalas dengan kebijakan serupa. Sebaliknya, fokus pertemuan mengarah pada penguatan ekonomi domestik di masing-masing negara anggota.
"Kita tidak membahas tarif secara detail, dan saya kira masing-masing negara punya mekanisme negosiasi. Tapi intinya, kita sepakat tidak melakukan retaliasi, dan memperkuat ekonomi domestik sebagai bagian dari ketahanan kawasan," tegasnya.
Diversifikasi Pasar dan Kemandirian Nasional
Dalam konteks Indonesia, Sugiono menyatakan pentingnya mengenali potensi dalam negeri sebagai pijakan dalam menghadapi dinamika ekonomi global. Ia menilai, langkah Presiden Prabowo yang fokus pada swasembada pangan, energi, dan pembangunan sumber daya manusia adalah keputusan strategis.
"Kita ingin membangun kekuatan ekonomi yang tidak bergantung pada siapa pun. Indonesia harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, sembari tetap menjalin hubungan internasional yang konstruktif," imbuhnya.
Tarif Impor Tambahan dari AS
Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, dalam kesempatan terpisah menyatakan bahwa pemerintah Indonesia tengah fokus menurunkan tarif impor dari Amerika Serikat yang kini mencapai angka signifikan, yakni 32 persen terhadap sejumlah produk Indonesia. Haryo juga menepis anggapan bahwa keputusan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS merupakan bentuk balasan terhadap kebijakan perdagangan AS. "Keputusan itu merupakan bagian dari politik luar negeri bebas aktif yang selama ini kita jalankan. Tidak semata-mata karena persoalan tarif atau transaksi dagang," ujar Haryo. Sebagaimana diketahui, tarif resiprokal yang diajukan Trump melalui surat kepada Presiden Prabowo Subianto akan berlaku mulai 1 Agustus 2025. Tarif ini bersifat tambahan di luar bea masuk yang sudah dikenakan sebelumnya terhadap produk Indonesia yang masuk ke pasar AS. Dengan kondisi tersebut, pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas ekonomi nasional dengan memperluas pasar ekspor nontradisional, mendorong industrialisasi dalam negeri, dan memperkuat posisi tawar di panggung perdagangan global. (***) Sumber: https://masyarakatsejarawan.or.id/R
Ditulis oleh
Redaksi RusdiMediaRedaksi RusdiMedia menyusun dan menyunting seluruh artikel di situs ini. Sebagian artikel disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan untuk merangkum informasi dari sumber pemberitaan tepercaya, dan setiap artikel ditinjau oleh redaksi manusia sebelum diterbitkan. Selengkapnya di halaman Metodologi & Kebijakan Redaksi.
Lihat semua artikel oleh Redaksi RusdiMedia→Baca Juga

Bisnis
PT Freeport Indonesia Buka 91 Lowongan Kerja untuk Fresh Graduate, Peluang Emas bagi Gen Z!
1 hari lalu
Bisnis
Pemegang Saham PT: Hak dan Kewajiban yang Wajib Dipahami Sejak Awal
7 Mei 2026
Bisnis
Indonesia dan Jepang Sepakati Kerja Sama Energi, Dari Mineral Kritis hingga Nuklir
15 Maret 2026
Bisnis
Review Jujur Menggunakan Sistem HRIS Mekari Talenta, Nggak Perlu Lagi Ribet Urusan Absen dan Cuti
12 Februari 2026Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
