Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah pesawat tempur Israel melancarkan serangkaian serangan udara ke jantung ibu kota Suriah, Damaskus. Target utama serangan tersebut adalah Gedung Staf Umum, Kementerian Pertahanan, serta area sekitar Istana Kepresidenan.
Menurut laporan dari Kantor Berita Pemerintah Suriah, SANA, serangan yang terjadi pada Rabu (16/7/2025) tersebut mengakibatkan sedikitnya sembilan orang terluka. Informasi itu dikonfirmasi oleh Kementerian Kesehatan Suriah.
Serangan udara yang menyasar langsung pusat pemerintahan Suriah ini disebut-sebut sebagai respons Israel atas meningkatnya bentrokan bersenjata di Sweida, wilayah selatan Suriah yang mayoritas dihuni oleh komunitas Druze.
Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, dalam pernyataan resminya mengatakan bahwa “masa peringatan kepada Damaskus telah berakhir”. Ia mengancam akan melanjutkan serangan yang menyakitkan sebagai pesan keras terhadap Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa.
“Kami akan terus beroperasi dengan kuat di Sweida untuk menghancurkan pasukan yang menyerang komunitas Druze sampai mereka mundur,” tegas Katz.
Ia menambahkan bahwa serangan yang dilakukan dalam 24 jam terakhir ini menargetkan sejumlah situs milik rezim Suriah di wilayah Sweida. “Serangan akan terus meningkat kecuali jika pesannya dipahami,” kata Katz.
Pernyataan keras juga datang dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ia menyebut bahwa situasi di Sweida dan wilayah barat daya Suriah kini dalam kondisi yang sangat berbahaya. “Kami bekerja untuk menyelamatkan saudara-saudara Druze kami dan menghabisi gerombolan-gerombolan rezim,” ujarnya.
Sementara itu, seorang sumber keamanan Israel menyebut bahwa pasukan militer Israel bahkan telah menyerbu pintu masuk markas besar Staf Umum Suriah. Tindakan ini dilakukan sebagai sinyal langsung terhadap Presiden al-Sharaa, menyusul meningkatnya kekerasan dan kekacauan di Sweida.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan meletusnya konflik terbuka antara Israel dan Suriah. Serangan terhadap target vital di Damaskus menandai eskalasi baru dalam hubungan kedua negara yang selama ini sudah tegang akibat konflik Suriah yang belum juga mereda.
Belum ada tanggapan resmi dari pihak pemerintah Suriah terkait tudingan Israel terhadap peran mereka dalam konflik Sweida. Namun, pengamat militer menyatakan bahwa serangan Israel ini bisa memperlebar konflik, bukan hanya di Suriah, tetapi juga berdampak pada stabilitas kawasan secara keseluruhan.
Pengamat Timur Tengah dari Universitas Damaskus, Dr. Majid Hamdan, menyebut bahwa keterlibatan Israel secara langsung ke Damaskus adalah langkah berisiko tinggi. “Ini bukan lagi operasi di wilayah perbatasan. Mereka menghantam jantung pemerintahan. Dampaknya bisa sangat luas, termasuk reaksi dari sekutu Suriah seperti Iran atau Rusia,” jelasnya.
Sampai saat ini, suasana di ibu kota Suriah masih mencekam. Jalan-jalan utama terlihat dijaga ketat oleh aparat militer. Warga sipil dilaporkan mulai mengungsi dari pusat kota ke wilayah pinggiran, mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan dari Israel.
Serangan Israel ke Damaskus menambah daftar panjang aksi militer mereka di kawasan tersebut. Meski kerap berdalih sebagai tindakan pertahanan, langkah ini kerap memicu ketegangan dengan negara-negara tetangga dan dikritik komunitas internasional.
Masyarakat internasional pun mulai menyuarakan keprihatinannya. Beberapa negara anggota Dewan Keamanan PBB dikabarkan akan meminta sidang darurat untuk membahas eskalasi terbaru ini. Mereka khawatir, ketegangan ini bisa memicu konflik yang lebih luas, terlebih dengan meningkatnya aktivitas militer Israel di wilayah yang selama ini berada di bawah kekuasaan pemerintah Suriah.
Kawasan Timur Tengah kini kembali berada dalam sorotan dunia, menunggu apakah akan ada jalan diplomatik yang bisa meredakan konflik atau justru mengarah pada perang terbuka antara dua kekuatan yang sudah lama berseteru. (***)












