Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman terhadap pemerintah Afghanistan apabila pihak berwenang Kabul tidak mengembalikan Pangkalan Udara Bagram kepada Amerika Serikat.
“Jika Afghanistan tidak mengembalikan Pangkalan Udara Bagram kepada mereka yang membangunnya, Amerika Serikat, hal buruk akan terjadi,” ujar Trump, dikutip dari pernyataannya kepada wartawan serta unggahan di platform media sosialnya pada Minggu (21/9).
Pernyataan keras tersebut datang di tengah upaya pemerintahan Trump yang menyatakan ingin mengambil kembali kendali atas Bagram, pangkalan yang menjadi pusat operasi AS di Afghanistan sejak invasi 2001. Pangkalan seluas itu sempat dilengkapi fasilitas bagi pasukan AS, mulai dari restoran cepat saji hingga kompleks penjara besar, namun ditinggalkan saat penarikan pasukan AS pada 2021 dan kemudian dikuasai Taliban.
Ketika ditanya apakah langkah untuk merebut kembali Bagram akan melibatkan pengiriman pasukan, Trump memilih bersikap diplomatis namun menegaskan kehendaknya: “Kami tidak akan membicarakan hal itu. Kami sedang berbicara dengan Afghanistan dan kami menginginkannya kembali dan kami menginginkannya kembali segera, segera. Dan jika mereka tidak melakukannya … kalian akan tahu apa yang akan saya lakukan,” ucapnya.
Ancaman Washington ini langsung menuai penolakan dari pihak Taliban. Sejumlah pejabat Taliban menegaskan bahwa kesepakatan untuk menyerahkan kembali pangkalan tersebut tidak mungkin dilakukan dan menekankan kedaulatan Afghanistan. Pernyataan balasan ini menambah ketegangan diplomatik antara kedua pihak yang tidak memiliki hubungan diplomatik formal.
Para analis dan mantan pejabat AS memperingatkan bahwa upaya merebut kembali Bagram secara militer berisiko tinggi dan berpotensi menyerupai invasi skala besar, yang menurut sumber-sumber yang dikutip media AS dapat membutuhkan puluhan ribu personel serta dukungan pertahanan udara canggih.
Gedung Putih di bawah pemerintahan Trump menyatakan bahwa alasan kepentingan strategis turut menjadi dasar permintaan penguasaan kembali pangkalan tersebut. Trump bahkan menyebut posisi geografis Bagram relatif dekat dengan wilayah tempat produksi senjata strategis di kawasan, sehingga menurutnya memiliki nilai penting bagi keamanan nasional AS.
Kasus ini berpotensi menjadi titik pergesekan baru dalam hubungan AS-Afghanistan sekaligus memicu reaksi dari aktor regional. Para pengamat internasional kini mengawasi apakah ancaman tersebut akan berlanjut ke kebijakan nyata, termasuk opsi diplomatik, ekonomi, ataupun tindakan militer. (***)












